MANAJEMEN MENTAL", AJARAN PENTING UNTUK MANUSIA DARI EPICTETUS"
T. Muhammad Jafar Sulaiman
Hidup manusia dijalani dan dihabiskan pada dua hal yaitu "segala sesuatu yang berada dalam dirinya, segala sesuatu yang ada pada dirinya sendiri (intenal)" dan "segala sesuatu yang berada diluar dirinya sendiri, segala sesuatu yang tidak ada pada dirinya sendiri (eksternal). Dari dua hal ini, yang menjadi pertanyaan pentingnya adalah dalam hal mana manusia lebih banyak fokus dan lebih banyak menghabiskan waktu dan energinya untuk mengelola, mengurus, membenahi dan memperkuat, apakah dalam dirinya sendiri atau diluar dirinya sendiri ?.
Dua hal ini, "Segala sesuatu didalam diri manusia" dan " segala sesuatu diluar diri manusia" dan bagaimana cara mengelolanya adalah warisan berharga untuk manusia sekarang yang merupakan buah pikiran mendalam dari seorang Budak yang kemudian menjadi filsuf, budak ini bernama "Epictetus.
Epictetus adalah seorang pemikir yang lahir dalam masa perbudakan di Hierapolis, Roma (sekarang Pamukkale, bagian Barat Daya Turki), dia hidup sebagai seorang budak yang tidak punya apa - apa, namun ia mampu mempengaruhi pikiran seorang Kaisar Romawi yang paling berkuasa didunia, Marcus Aurelius yang kemudian menjadi muridnya.
Dalam sejarah filsafat dunia, nama Epictetus memang tidak sepopuler tiga serangkai Filsafat : Sokrates, Plato, Aristoteles, namun bagi manusia yang mendalami Stoikisme, sebuah ajaran filsafat yang mengajarkan ketenangan batin dan pengendalian diri, Epictetus ini adalah figur sentral yang ajarannya melampaui zaman. Lebih menarik lagi, Epictetus bukanlah berasal dari keluarga Bangsawan seperti Plato, bukan pula murid dari Akademi elit seperti Aristoteles, namun dari seorang budak, yang dari kehidupannya sebagai seorang budak inilah lahir pemikiran - pemikiran yang mempengaruhi arah dan cara hidup para pemimpin besar, termasuk Kaisar terkenal Romawi Marcus Aurelius dan mempengaruhi umat manusia sampai saat ini.
Kaki Yang Patah, Tapi Kebijaksanaan Tidak
Epictetus menghabiskan sebagain besar hidupnya dibawah kuasa seorang majikan yang sangat kejam di Roma. Suatu hari, karena kemarahan yang tanpa sebab, majikannya memelintir kakinya dengan sangat keras sampai patah, ketika majikannya terus memelintir kakinya Epictetus sangat tenang tanpa berteriak, tanpa meradang, tanpa mengumpat atau panik sekalipun, dengan tenang dia berkata kepada majikannya " kaki itu akan patah " dan ketika kaki itu benar - benar patah, epictetus berujar dengn pelan sekali "bukankah sudah kukatakan anda akan mematahkannya", dia tetap tenang bahkan saat didera rasa sakit yang luar biasa.
![]() |
| Source : Epicteti Enchiridion Latinis versibus adumbratum (Oxford 1715) frontispiece |
Meskipun kakinya pincang akibat siksaan tersebut, tidak mematahkan semangatnya untuk belajar, meskipun sebagai budak dia diperbolehkan belajar filsafat dari Musonius Rufus, salah satu filsuf Stoik paling terkemuka dimasanya, kesempatan itu benar - benar tidak di sia - siakan oleh Epictetus.
Ketika mendapatkan kebebasanya, Epictetus menjauh dari kekuasaan dan memilih hidup sederhana, dia pindah ke Nikopolis (Yunani) , mendirikan sekolah filsafat yang mengajarkan prinsip-prinsip Stoik, dari tempat inilah, Epictetus mempengaruhi generasi demi generasi manusia termasuk Marcus Auelius sanga Kaisar Romawi, yang membaca ajaran-ajarannya dengan penuh hormat.
Ajarannya kemudian diminati tidak hanya oleh Sang Kaisar, tetapi juga para Bangsawan dan Petinggi Romawi yang rela menempuh perjalanan jauh untuk belajar pada Epictetus. Markus Aurelius, murid Epictetus adalah Kaisar Romawi yang memerintah dipuncak kejayaan Romawi yang juga dikenal sebagai salah satu penguasa paling bijak dalam sejarah. Dia juga seorang pemimpin yang menulis buku " Meditations", yang sampai sekarang menjadi rujukan klasik Stoikisme, dari buku ini terlihat jelas pengaruh ajaran Epictetus pada sang Kaisar
Namun, berbeda dari filsuf lain yang menulis bukunya sendiri, Epictetus tidak meninggalkan karya tulis yang ditulisnya sendiri, dia beruntung punya seorang murid bernama "Arrian" yang mencatat ajaran- ajaran Epictetus yaitu "Enchiridion" (buku panduan kecil), dari sini kita bisa melihat betapa mendalam pandangan hidup seorang Epictetus.
Kebebasan Sejati ada dalam Kendali Diri : Ajaran Epictetus yang Relevansinya hingga Kini
Inti dari seluruh ajaran Epictetus adalah "Dikotomi Kendali" atau "Mental Manajemen Fokus". Epictetus mengajarkan bahwa segala sesuatu didunia ini terbagi menjadi dua bagian yang sangat tegas : Pertama, "hal - hal yang berada dalam kendali kita" seperti pikiran, opini, keinginan dan tindakan kita sendiri" Kedua, "hal - hal yang berada diluar kendali kita" seperti kondisi tubuh, harta benda, reputasi, stigma, cuaca, peristiwa, hingga tindakan orang lain.
Menurut Epictetus, penderitaan manusia muncul hanya karena satu alasan sangat sederhana yaitu kita terlalu sibuk mencoba mengendalikan apa yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan.
Epictetus juga mengajarkan konsep "Prohairesis" atau "Kehendak Besar", ia mencontohkan bahwa meski seorang majikan bisa merantai kaki kita, memenjarakan tubuh kita atau menyita seluruh harta kita atau sebuah peristiwa mengambil semuanya dari kita, tetapi tidak ada seorangpun disemesta ini yang bisa memenjara kehendak kita kecuali jika kita sendiri yang mengizinkannya. Diri kita sendiri adalah nahkoda tunggal dari setiap keputusan yang kita buat.
Dia juga mengajarkan prinsip "Amor Fati" (Yang kemudian menginspirasi Karl Friedrich Nietzsche), yaitu ajaran untuk mencintai takdir. Epistetus mengajarkan kita untuk tidak meminta agar peristiwa, agar keadaan terjadi sesuai keinginan kita tetapi justru belajar untuk menerima apapun yang telah terjadi seperti apa adanya, sehingga kita akan menjadi sosok yang tidak terkalahkan.
Epictetus juga mengajarkan dengan tegas agar manusia fokus pada pembenahan, penguatan segala potensi yang ada dalam diri manusia dan belajar terus menerus untuk memperbesar energi dalam diri manusia "Jika kamu ingin berkembang, jangan takut untuk dianggap bodoh atau berbeda" ujar Epictetus. Ajaran ini mendorong kita untuk hidup sesuai nilai pribadi, bukan sesuai standar luar yang terus berubah - ubah.
Filsuf mantan budak ini juga mengajarkan tentang seni menerima, yaitu tidak semua hal harus dikontrol, tidak semua hal bisa kita ubah, kadang yang perlu diubah hanyalah cara kita memandang sesuatu. Namun Epictetus tidak mengajarkan untuk pasrah atau menyerah, tetapi justru mendorong kita menjadi "penguasa atas diri sendiri, "Tidak seorangpun benar - benar bebas jika ia belum menguasai dirinya sendiri"
Sebuah kebebasan menurut Epictetus bukan sekedar lepas dari aturan atau otoritas. Kebebasan sejati adalah ketika seseorang bisa berkata tidak pada nafsu, amarah, ketakutan dan ketergantungan".
Epictetus bukanlah sekedar sebuah filsafat tetapi cara hidup, bukanlah teori kosong tetapi praktek harian. Pesannya tetap menyala terang hingga sekarang : " kendalikan dirimu, dan kamu akan menemukan kebebasan sejati", dalam dunia yang serba tidak pasti, sikap kitalah yang paling pasti.
Lantas mengapa ajaran Epictetus tetap bertahan hingga ribuan tahun sampai sekarang, semua adalah karena kesederhanaan sekaligus kedalaman prinsip-prinsip yang diajarkannya.
Bayangkan, sosok yang pernah menjadi seorang budak, justru menginspurasi seorang Kaisar terbesar pada zamannya, ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan tidak mengenal kelas sosial. Dalam dunia dimana harta dan kekuasaan sering menjadi ukuran nilai seseorang, Epictetus adalah pengingat dan penanda untuk manusia bahwa karakter dan cara berfikir jauh lebih penting. Epictetus adalah bukti bahwa segala keterbatasan tidak menentukan akhir hidup seseorang, dari budak yang hidup dalam kekangan, dia menjelma menjadi guru yang pemikirannya melampaui zaman dan lintas budaya.
