HIDUP, KEHIDUPAN DAN PERJALANAN MANUSIA
Oleh: T. Muhammad Jafar Sulaiman
Setiap perjalanan adalah pelajaran baru dan pengetahuan baru. Karena perjalanan adalah proses berpindah dan beralihnya penglihatan manusia, suasana manusia, perpindahan wilayah/daerah yang berbeda geografisnya, berbeda bahasanya, budayanya, kebiasaannya, berbeda makanannya, karena itu setiap yang dilewati manusia adalah hal baru yang pasti akan berbeda antara satu perjalanan degan perjalanan lainnya.
Misal, tentu manusia akan mendapati suasana yang berbeda ketika melewati sebuah wilayah yang dikiri kanannya penuh masjid, kemudian memasuki sebuah wilayah yang wilayahnya dipenuhi gereja dikiri kananya dan dipenuhi masjid dan gereja yang berdiri berdampingan. Juga berbeda ketika dalam perjalanannya manusia melewati sebuah wilayah yang dia hanya melihat manusia yang menjual daging sapi dipinggi jalan dengan ketika memasuki sebuah wilayah dimana daging babi pinky dijual bebas dipinggir jalan atau ketika memasuki wilayah yang sama sekali tidak tertulis kedai/warung dengan label warung muslim karena semua makanannya halal, tiba - tiba memasuki wilayah yang tertulis jelas "warung muslim" , yang berarti warung yang tidak tertulis muslim belum tentu menyajikan makanan yang halal, begitulah halal dan haram berbeda antara satu tempat dengan tempat lain.
Dan yang paling fundamental adalah tentu berbeda antara perjalanan yang disertai Tuhan dalam setiap perjalanannya dengan perjalanan yang tidak disertai Tuhan disetiap perjalanannya. Perjalan yang disertai Tuhan adalah spiritual dan perjalanan yang tidak disertai Tuhan hanyalah perjalanan natural saja. Perjalanan yang disertai Tuhan berarti Tuhan berbicara, berfirman dan berpesan dari setiap apa yang dilihat, dari setiap apa yang dilalui dan dilewati dan dari setiap apa yang dinikmati dan ini adalah pencerahan, perjalanan yang tidak disertai Tuhan hanya perjalan biasa saja sama seperti seseorang yang ingin pulang kekampung halamannya tetapi satupun tidak ada yang mengenalnya apa lagi menyapanya.
![]() |
| Prapat, Dokumen Pribadi |
Dari perjalanannya sebagai makhluk sejarah, manusia memahami bahwa hidup adalah perjalanan : pergi, kembali, pergi lagi dan kemudian mati, abadi. Manusia adalah juga makhluk yang selalu berfikir tentang hidup, berjuang keras untuk hidup, tetapi lupa untuk menghidupi. Ya, sejatinya hidup adalah menghidupi, ini adalah perpindahan pertanyaan dari metafisis ke ontologis, dari hakikat realitas manusia kepada hakikat keberadaan manusia, hakikat realitas adalah ada, sedangkan hakikat keberadaan, setelah ada, apa hakikat keberadaan manusia, karena itu dengan tahu hakikat keberadaan maka manusia telah menghidupi kehidupan, sedangkan jika manusia tidak tahu hakikat keberadaannya, maka hanya sekedar ada saja.
Hakikat keberadaan Manusia adalah menemukan Kebenaran
Umat Syiah melakukan perjalanan Karbala, dimana rute yang paling populer adalah dari Najaf ke Karbala, karena banyak peziarah pertama-tama pergi ke Najaf dan kemudian berjalan kaki dari sana ke Karbala, yang berjarak sekitar delapan puluh kilometer, dan membutuhkan waktu sekitar tiga hari dengan berjalan kaki pada tanggal 10 Muharram.
Perjalanan ini adalah perjalanan spiritual dimulai dari awal perjalanan Imam Husain meninggalkan Mekah pada 8 Dzulhijjah, menolak membaiat Yazid yang dianggap tidak sah dan menzalimi rakyat, kemudian penghadangan: Rombongan Husain dihadang pasukan Umayyah yang dipimpin Ubaidullah bin Ziyad di dataran Karbala dan Pengepungan: Pasukan Yazid memutus akses air ke tenda Imam Husain sejak hari ke-7 Muharram, dan pada 10 Muharram (Asyura), pertempuran tidak seimbang terjadi.
Dalam Agama Budha, diantara perjalanan spiritualnya dikenal dengan Thudong, dimana Ciri Khas dan Makna Thudong: adalah perjalanan Kaki ribuan kilometer, sering kali tanpa alas kaki atau hanya sandal, melewati berbagai medan. Thudong adalah Praktik Latihan Keras (Dhutanga): Berasal dari bahasa Pali dhutanga (latihan keras) untuk melatih kesabaran dan tekad para biksu, hanya makan satu atau dua kali sehari (sebelum jam 12 siang) dan beristirahat di tempat ibadah atau vihara. Thudong bukanlah sekadar jalan kaki, melainkan napak tilas untuk meningkatkan kemampuan spiritual, merenung, dan menyebarkan pesan kedamaian.
Diantara praktik Thudong yang sudah dilakukan adalah perjalanan 18 orang Bhilkhu Theravada, berjalan sejauh 3.700 melintasi Amerika Serikat untuk menyebarkan perdamaian dan mengusulkan pengakuan Waisak sebagai hari libur federal. Perjalanan ini dimulai dari Texas pada 26 Oktober 2025 dan berakhir di Washington D.C. pada pertengahan Februari 2026.
Hidup dan kehidupan manusia bukanlah sekedar hidup - mati : lahir, hidup, menjadi anak-anak, remaja, dewasa, tua dan kemudian mati. melainkan perpindahan berkesinambungan : Alam Ruh, Rahim, dunia (tempat sementara), Barzakh, hingga akhirat. Tujuan akhirnya adalah kehidupan kekal dan hakikat keberadaan manusia adalah "perjalanan spiritual dan intelektual" untuk menemukan kebenaran sejati, di mana segala yang dialami, dilihat dan dirasakam adalah pembelajaran.
Menemukan kebenaran adalah menemukan Tuhan, diawali dengan prooses penyucian jiwa (takhalli), pengisian jiwa dengan kebaikan (tahalli), dan penyaksian kehadiran Tuhan (tajalli).
Dalam dunia Islam, ada 4 perjalanan manusia yang harus dilakukan untuk menjadii manusia yang tahu hakikat keberadaannya sebagai manusia seperti yang ditulis Mulla Shadra dalam kitabnya "Al-Hikmah al-Muta’āliyyah fi al-Asfār al-Aqliyyah al-Arba’ah "
Perjalanan pertama; Safār min al-Khalq ila al-Haq (Perjalanan dari makhluk menuju Tuhan). Pada tingkat ini, perjalanan yang dilakukan adalah dengan mengangkat hijab kegelapan dan hijab cahaya yang membatasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Seseorang harus melewati stasiun-stasiun, mulai dari stasiun jiwa, stasiun qalb, stasion ruh dan berakhir pada maqsad al-aqsa. Pada tahap ini perjalanan rohani baru dimulai dari pelepasan diri dan bergabung menuju Tuhan.
Perjalanan kedua: Safār bi al-Haq fi al-Haq (Perjalanan bersama Tuhan di dalam Tuhan). Pada tahap ini seorang yang menjalani disiplin spiritual dalam menempuh jalan sufisme Islam untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya. memulai tahap kemanuiaanya karena wujudnya telah menjadi diri-Nya dan dengan itu dia melakukan penyempurnaan dalam nama-nama agung Tuhan.
Perjalanan ketiga; Safār min al-Haq ila al-Khalq bi al-Haq (Perjalanan dari Tuhan menuju Makhluk bersama Tuhan). Dalam stasiun ini seorang menempuh perjalanan dalam Af’āl Tuhan, kesadaran Tuhan telah menjadi kesadarannya dan menempuh perjalanan di antara alam Jabarut, Malakut dan Rabbani serta menyaksikan segala sesuatu yang ada pada alam tersebut melalui pandangan Tuhan.
Perjalanan keempat; Safār min al-Khalq ila al-Khalq bi al-Haq (Perjalanan dari makhluk menuju makhluk bersama Tuhan). Dengan mata ilahiah, seseorang memperhatikan makhluk dan rahasianya, mengerti seluruh rahasia makhluk, titik mula dan akhirnya, titik awal dan tujuannya, apa yang baik dan buruk baginya. Inilah maqam Insan al-kamil.
Dan, perjalanan yang sedang kami tempuh ini adalah perjalanan ke lima.....
Prapat, Pinggiran Danau Toba, 9 Februari 2026
