ALEXANDER AGUNG DAN SI “ANJING” DIOGENES
T. Muhammad Jafar Sulaiman
Diogenes adalah filsuf yang terkenal dengan ajaran “Sinisme”. Diogenes lahir di Sinope, sekitar tahun 412 SM, Sinope (Σινώπη) merupakan kota yang terletak di Turki bagian utara.Mazhab “Sinisme” dalam sejarahnya adalah sebuah mazhab filsafat yang ajarannya berakar pada Sokrates. Karena itu dia berpendapat seperti Sokrates bahwa manusia harus manusia haruslah memiliki keutamaan tentang yang baik. Tetapi ada perbedaan pendapat antara Sokrates tentang apa yang baik bagi manusia, , Diogenes berpendapat bahwa keutamaan tentang yang baik bagi manusia adalah ketika manusia memiliki rasa puas diri dan mengabaikan segala kesenangan duniawi.
Diogenes dari Sinope dikenal dengan sebutan “Kunikos” (Yang dalam Yunani berarti anjing).
Hal itu dikarenakan ia sangat berani dalam menyatakan pandangannya layaknya seekor anjing yang menyalak. Sekalipun ajarannya mirip dengan ajaran Sokrates tentang kebaikan, namun sikapnya jauh menyimpang dari gaya santunnya Sokrates, sehingga Plato menjulikinya sebagai "Sokrates yang Pemarah. Sebutan “anjing” untuk Diogenes ini juga terkait dengan hidup yang dialami oleh Diogenes ketika tingga di Sinope yaitu ketika dia bersama ayahnya dituduh memalsukan mata uang, Diogenes dan ayahnya diusir dari Athena atas tuduhan tersebut sehingga dia memutuskan untuk hijrah ke Athena mengawali hidupnya sebagai seorang pelarian politik. Namun dia tidak mau larut dalam nasib buruknya, dia justru menggunakan segala nasib buruk yang dialami nya untuk merombak dan merubah nilai – nilai masyarakat di Athena yang menurutnya hidup dalam banyak sekali kemunafikan, sehingga dia memilih hidup selayaknya seekor anjing sebuah pilihan hidup yang menjadi asal usul istilah sinisme yang secara harfiah berarti seperti anjing.
Dia tinggal dalam sebuah gentong besar dipasar tanpa harta kecuali sehelai baju, tongkat dan kantung makanan sederhana. Salah satu kisahnya yang sangat legendaris adalah saat berjalan di siang bolong sambil membawa sebuah lampu yang menyala lalu dia berteriak : “ Aku mencari manusia jujur disini, tetapi aku tidak menemukannya”.
Apa yang dilakukan Diogenes ini mengingatkan kita pada apa yang dilakukan oleh seorang Sufi perempuan dunia “Rabi’ah Al Adawiyah” di kota Basrah. Di Kota yang gelap itu, di salah satu sudut, seorang perempuan bertubuh kurus, mengenakan jubah lusuh yang warnanya nyaris menyatu dengan bayangan malam, melangkah pelan. Tangannya menggenggam erat sebuah obor kecil. Di bahu kirinya, dia menggantung seember air yang, berayun mengikuti langkahnya. Rabi‘ah berhenti sejenak, menatap obor, lalu ember. Senyumnya samar, tapi matanya memantulkan api yang lebih besar dari obor yang ia bawa. Obor itu bukan hanya sekedar penerang jalan dan air itu bukan sekedar pelelpas rasa dahaga.
Malam itu, seorang pemuda yang melihat apa yang dilakukan Rabi’ah tersebut bertanya dengan heran kepada Rabi’ah AL Adawiyah : “Kenapa kau membawa obor di satu tangan dan air di tangan lainnya, wahai Rabi‘ah?” . Rabiah menjawab dengan pelan namun tegas : “Dengan obor ini aku akan membakar surga. Dan dengan air ini, aku akan memadamkan neraka.”
Pemuda itu mengerutkan kening, tanda tak paham. “Mengapa begitu? Bukankah semua orang menginginkan surga dan takut neraka?”. “Aku ingin manusia hanya mencintai Allah, bukan karena berharap surga atau takut neraka. Cinta sejati hanyalah untuk-Nya, tanpa imbalan dan tanpa ancaman”, jawab Rabi’ah dengan pasti.
Aksi yang dilakukan Diogenes, sama seperti yang dilakukan Rabi’ah adalah sebuah sindiran betapa sulitnya menemukan manusia otentik yang hidup dengan alamiah ditengah riuhnya kota Athena. Bagi Diogenes, manusia adalah makhluk alamiah, namun adat istiadat dan kebudayaan telah merusak kealamiahan manusai tersebut. Menurut Diogenes, situasi masyarakat pada masanya telah rusak, Dengan segala adat istiadat dan kebudayaan yang dihasilkannya, manusia tidak lagi menjadi alamiah dan jatuh pada sikap mencari enaknya sendiri saja. Untuk mengkritik situasi tersebut, Diogenes mengabaikan segala adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakatnya. Hal itu dilakukannya untuk memberi kritik terhadap masyarakat yang tidak lagi hidup secara alamiah. Dengan demikian, apa yang dimaksudkannya dengan keadaan manusia yang alamiah adalah bagaimana manusia hidup dengan standar minimal untuk hidup, dan tanpa masyarakat.
Bagi Diogenes, adat dan budaya juag pranata sosial yang mengikat warga negaranya adalah sebuah bentuk penjara yang mengekang manusia untuk menjadi manusia alami, manusia alami adalah manusia yang bebas dan tidak terikat oleh satu budaya, satu pranata sosial, terikat oleh satu kesepakatan sosial, tidak terikat oleh satu kota, terikat oleh satu negara. Apa yang dipikirkan secara mendalam oleh Diogenes ini kemudian juga menjadi cikal bakal lahirnya Kosmopolitanisme. Sehingga Diogenes terkenal dengan kata-katanya “ Aku adalah warga dunia, aku bukan warga Athen
Kosmopolitanisme adalah pandangan atau ideologi bahwa semua manusia adaalh bagian dari satu komunitas gloal tunggal, terlepas dari batas negara, etnis, budaya, atau pranata sosial. Konsep ini menekankan moralitas, kesetaraan, dan keterhubungan global, di mana individu melihat diri mereka sebagai "warga dunia" yang menghormati keragaman dan kemanusiaan bersama.
Diogenes juga mengajarkan tentang pengendalian diri terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan kesenangan duniawi. Kesenangan, nafsu, dan kemewahan haruslah dijauhi oleh manusia sebab hal-hal itulah yang membuat manusia dan masyarakat menjadi rusak. Menurutnya, rasa lapar dan rasa sakit berguna untuk melatih moral manusia. Bila manusia dapat mengendalikan diri terhadap segala kesenangan duniawi, barulah manusia dapat mencapai kebahagiaan dan ketenangan batin.
Diogenes dan Alexander Agung
Diogenes dikenal dengan gaya hidup yang radikal dan pemikiran yang menentang kemapanan sosial. Gaya hidupnya tersebut juga menyebabkan Dioegenes dianggap sebagai orang gila, Diogenes membalas stigma tersebut dengan menyatakan bawha “dirinya bukanlah orang gila—meskipun mungkin dianggap demikian oleh masyarakat—hanya karena cara berpikirnya tidak mengikuti arus umum. Kata-katanya menjadi kritik terhadap masyarakat yang terlalu cepat menilai “berbeda” sebagai “salah” atau “gila”, padahal perbedaan cara berpikir justru bisa membuka jalan menuju kebijaksanaan yang lebih dalam. Berpikir berbeda bukanlah kegilaan. Kadang, keberanian untuk berpikir di luar kebiasaan justru menunjukkan kebebasan sejati dan kejernihan akal. “Aku tidak gila, hanya saja isi kepalaku berbeda dengan isi kepalamu”, ucap Diogenes
Gaya hidup Diogenes yang unik dan tidak biasa itu menyebabkannya menjadi seorang yang banyak diperbincangkan warga Athena sehingga kemashsyurannya ini sampai kepada Alexander Agung, penguasa dunia ini sangat penasaran sehingga ingin menemui Diogenes. Pertemuan Alexander Agung dan Diogenes ini adalah pertemuan paling ikonik dalam sejarah pemikiran manusia. Ketika itu Alexander Agung berkata dan bertanya kepada Diogenes : “Wahai Diogenes, aku ini adalah penguasa dunia, apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Diogenes” , mendengar pertanyaan tersebut, sang filsuf yang sedang asik berjemur hanya menjawab dengan santai “ Tolong bergeser sedikit, karena anda sedang menghalangi sinar matahari. Aku tidak meminta apapun selain agar kau pindah ke sisi lain, agar kau tidak meghalangi sinar matahari, mengambil dariku apa yang tidak dapat kau berikan”
Mendengar jawaban tersebut, Alexander Agung bukannya marah tetapi sangat terkesan dengan jawaban tersebut sehingga dia berkata : “ Andai aku bukan Alexander, aku ingin menjadi seperti Diogenes”. Fragmen ini menunjukkan bahwa segala kekuasaan yang dimiliki oleh Alexander yang bahkan dunai yang dikuasainya itu bisa menutup matahari, namun dia tidak ada apa – apanya ketika dia menghalangi sinar matahari bagi seorang Diogenes yang sedang berjemur, menandakan bahwa sebuah kekuasaan besar tunduk pada sebuah kebijaksanaan yang sangat sederhana sekali,
Inti Ajaran Diogenes
Inti ajaran Diogenes ada pada dua hal yaitu “ Autarkeia” (kemandirian. Rasa cukup) dan “Anaideia” (ketidak santunan).
Autarkeia adalah pencarian kebebasan mutlak melalui kemandirian total, kebahagiaan sejati tidak membutuhkan apapun dari lar diri manusia, semakin sedikit kebutuhan manusia semakin dia dekat dengan derajat Ketuhanan.
Anaideia adalah ketidak santunan, digunakan untuk melanggar norma – norma kesopanan dalam masyarakat, untuk menunjukkan betapa konyolnya aturan sosial yang sering kali dibuat demi gengsi semata. Standar sopan santun dalam masyarakat seringkali hanyalah kemunafikan yang membelenggu kebebasan individu.
Akhirnya Diogenes memilih meninggalkan hukum buatan manusia yang rumit dan kembali pada prinisip hukum alam yang murni. Dia melihat bahwa seekor anjing tidak membutuhkan status, membuthkan segala kemewahan dan segala pujian untuk merasa bahagia dan dia yakin bahwa manusia pun seharusnya bisa hidup demikian, hidup selaras dengan alam Diogenes memberikan instrument pembersih ego yang tajam mengajarkan bahwa kebebasan sejati hanya bisa diraih saat manusia berani melepaskan diri dari segala tekanan dan ekspektasi sosial yang semu.
