IRAN DAN DUNIA YANG AKAN TERUS BERUBAH

 T. Muhammad Jafar Sulaiman 

Iran merupakan salah satu negara yang mengalami transformasi politik paling berpengaruh di dunia. Revolusi Islam Iran telah menimbulkan efek yang dahsyat bagi negara-negara sekitarnya dan juga bagi dunia. Revolusi Islam 1979 adalah salah satu titik balik paling penting dalam sejarah Iran modern. Peristiwa revolusi Islam membawa perubahan besar, tidak hanya perubahan radikal sistem politik negara Iran dari sebuah kerajaan menjadi Republik Islam, melainkan juga mengubah konstelasi politik global dan juga polarisasi kekuatan geopolitik dunia secara signifikan. 

Michel Foucault (Filsuf Perancis) yang datang lansung ke Iran ketika revolusi terjadi, menyebut Revolusi Islam Iran sebagai sebuah "Madness", kegilaan Iran.  Apa yang terjadi di Iran  adalah sebuah ketidak laziman Islam dari yang biasanya, sifat-sifatnya menjadi antitesa pandangan politik Barat dan kaum sayap kiri sekuler pada umumnya. Revolusi yang dipimpin para  mullah (ulama), membuktikan bahwa satu frasa yang paling spektakuler dalampemikiran politik Eropa hanyalah satu pernyataan yang dibuat pada waktu dan tempat tertentu saja. 

Source : Google 
Ini mengingatkan pada ungkapan tersohor Foucault tentang Marxisme, “Marxisme hidup dalam dunia pemikiran abad ke -19 seperti ikan di dalam air”. Kemungkinan besar Foucault memandang revolusi religius Iran sebagai kesempatan untuk mengingatkan para Marxis tentang keterbatasan epistemologis mereka. Foucault seolah ingin mengatakan bahwa Iran mengingatkan orang Eropa, betapa miskinnya gagasan revolusi Eropa (Revolusi Prancis). 

Penekanan Foucault lainnya terhadap posisi politik Iran dengan Gerakan revolusinya adalah tentang bagaimana sebuah negara Muslim tak hanya menjungkir balikkan konsepsi modernitas Barat, tetapi juga narasi Barat berkenaan  dengan bagaimana suatu negara menjadi modern, menjadi modern tidaklah harus seperti Barat, Foucault menyebutnya dengan “kegilaan Iran. 

Iran Hari ini 

Mata dunia hari ini tertuju pada Iran, negeri persia, yang punya sejarah panjang peradaban, pengetahuan, kekuasaan dan spiritualitas. Negeri yang melahirkan banyak sekali Filosof yang pikiran - pikirannya kemudian merubah dunia. Dunia sedanh menunggu siapa yang akan memenangkan pertarungan, siapa yang berkuasa dan siapa yang akan jatuh. 

Iran, negara yang dibangun dengan 3 pilar kekuatan : Filsafat, Exact dan Irfan, tengah di uji pada pertarungan manusia yang ingin terbebas dari sistem Wilayah Al Faqih, ingin terbebas dari kekuasaan Mullah dan yang ingin tetap bersama Wilayah Al Faqih dan  sampai mati tetap bersama Mullah.  

Peperangan ini pertaruhannya besar sekali. Bagi Yang Pro Wilayah Al Faqih, perjuangan berdarah - darah dulu ketika menggulingkan kekuasaan Syah dan kemudian menakhodai Iran dengan sistem Wilayah Al Faqih selama 47 tahun  (1979 - 2026), tentu mempertahankannya adalah kewajiban mutlak, bukan hanya karena persoalan mempertahankan kekuasaan dan menjaga negara agar terus dijalankan dengan spiritualitas dan menghindari negara yang akan dijalankan dengan sekuler,  tetapi juga pertarungan menjaga kedaulatan negara untuk melawan dominasi asing yang ingin berkuasa di Iran melalui bonekanya dan ketika gerakan Pro Ayatullah memenangkan pertarungan ini, maka ini sama dengan memenangkan pertarungan melawan Barat dan meruntuhkan dominasi asing (Amerika, Barat dan Israel) di Barat dan didunia. 

Sedangkan gerakan massa yang anti Wilayah Al Faqih, menemukan  momentum yang tepat ketika Iran berada dalam krisis ekonomi yang besar, gerakan anti Mullah pasti tetap ada dan terus bekerja dan mereka menemukan cahaya ketika Iran berada dalam krisis sehingga tuntutannya lansung berubah dari persoalan ekonomi kepada pengulingan kekuasaan Ayatllah Ali Khemenei. Salah satu gerakan Anti Wilayah Al Faqih yang terus bekerja sepanjang masa dan hari ini telah bersuara adalah Reza Pahlavi, (Putra Makhkota terakhir dari  Shah Iran Mohammed Reza Pahlavi), yang  berusia 19  tahun  saat ayahnya digulingkan pada 11 Februari 1979. 

Source : Google 
Gerakan anti Ayatullah ini menyampaikan  argumen dan protes untuk menjatuhkan Ayatullah Ali Khamenei, bagi mereka Ayarullah dengan  kekuasannya lebih mementingkan dukungan terhadap Hizbullah, Humas dan Houti daripada rakyatnya sendir dan tentu tuntutan kebebasan  dan kemerdekaan kehidupan sipil seperti pada masa Shah berkuasa. Penjara terhadap kebebasan sipil ini telah berlansung 47 tahun, terutama kaum perempuan. Sehingga mereka mendambakan kehidupan bebas dan kehidupan mereka tidak diatur dengan agama, tetapi diatur dengan aturan manusia. 

Jika kita kembalikan pada rentang waktu berkuasa, maka kekuasan Shah Reza Mohammed Pahlavi dengan gaya sekulernya, dengan Pro Barat nya dan kekuatan SAVAKnya hanya berkuasa 38 tahun  (1941 - 1979) sedangkan kekuasan Wilayah Al Faqih yang saat ini ada ditangan Khamenei telah berkuasa 47 tahun (1979 - 2026). Hari ini keduanya kembali bertarung, mengulangi pertarungan Ayatullah Khomeini dengan Shah Mohammed Reza Pahlavi yang kemudian dimenangkan Khomeini. Dan dalam pertarungan hari ini Khomeini diwakili oleh Ali Khamenei dan Shah Reza Pahlavi di wakili oleh Reza Pahlavi dan kita belum tahu siapa pemenangnya. 

Pemerintahan Ayatullah Ali Khamenei, selain punya kekuatan Garda Revolusi (IRGC) mereka juga punya kekuatan para militer sukarela yang disebut "Basij*, mereka adalah sipil yang punya kemampuan militer. Basij ini ada dengan rasio jika ada 10 penduduk Iran, maka 1 nya adalah Basij, jika penduduk Iran ada 90 juta, maka ada 9 juta Basij, 9 juta para militer yang siap mati demi membela Ayatullah Ali Khamenei.

Basij adalah kekuatan cadangan untuk Garda Revolusi Islam, terlibat dalam keamanan internal, penegakan hukum, layanan sosial, dan kegiatan keagamaan, berfungsi sebagai mata dan telinga negara untuk menjaga stabilitas dan ideologi Republik Islam.  

Pertarungan ini pasti akan terus membesar, dengan tingkat kematian yang sangat besar ini tentu akan menyebabkan gerakan anti pemerintah  pasti akan terus membesar ditambah lagi Barat, Amerika dan Israel berada bersama mereka, namun tentu juga ada yang sangat murni yang tidak peduli dengan dukungan luar, mereka tetap ingin menggulingkan Mullah dan gerakan Pro pemerintah tentu juga akan semakin massif karena bagi mereka pertarungan ini bukan pertarungan melawan rakyat sendiri, tetapi pertarungan  melawan asing yang ingin mengambil tanah Iran atas nama kebebasan sipil dan atas nama demokrasi. 

Dikedua kubu ini, martir, kesyahidan adalah rukun iman, jadi kematian itu walau kadang ditangisi adalah hal yang biasa dalam spirit kesyahidan Husein yang dipunyai semua rakyat Iran. Semuanya bertumpu pada satu pesan Imam Husein : "lebih baik hidup diakhiratmu tidak jelas daripada ketika hidup didunia, engkau membiarkan dirimu dtindas penguasa yang zalim". 

Kita tidak tahu mana yang akan tetap dan mana yang akan terganti, tentu semua bisa memprediksi  dengan berbagai kalkulasi politik dan ekonomi, tetapi yang jelas manusia akan terus bertarung  untuk segala kebebasan dan kemerdekannya dan dunia juga akan terus berubah dan ada kalanya kehidupan manusia yang sebenarnya bisa jadi bukan dari aturan - aturan agama tetapi dari kehendak alam itu sendiri dan kehendak sejarah itu sendiri, bukan karena manusia ingin, atau karena pro barat atau pro islam, atau karena agamis dan sekuler, tetapi karena kehendak alam dan kehendak sejarah menginginkan seperti itu . Kita lihat saja nanti. 


Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Baca Juga Tulisan Lainnya :