2026 : FILSAFAT WAKTU DAN SUMPAH TUHAN KEPADA WAKTU
T. Muhammad Jafar Sulaiman
Filsafat Waktu
Alam semesta bukanlah mesin mekanis, tetapi sebagai proses hidup yang terus bergerak menuju kesempurnaan dan tidak ada kesempurnaan selain Tuhan dan manusia yang hidup didalamnya adalah proses yang terus bergerak menuju Tuhan sehingga bisa menuju kesempurnaan hidup, kesempurnaan sejarah sebagai manusia dan kesempurnaan peradaban manusia. Ada satu rumus umum dalam sejarah pemikiran manusia yaitu dimana ada gerak, disitu pasti ada waktu. Namun bagi Mulla Shadra (seorang Sufi dan filosof Persia) waktu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, bukan pula "kotak kosong" tempat peristiwa-peristiwa berlangsung. Waktu bukan panggung tempat dunia bergerak. Justru sebaliknya: waktu lahir dari gerak realitas itu sendiri.
Dalam pandangan umum manusia, maupun kebiasaan manusia sehari – hari, waktu sering dianggap sebagai entitas yang independen. Seolah-olah waktu sudah ada terlebih dahulu, lalu peristiwa datang dan pergi di dalamnya. Sadra menolak pandangan ini secara tegas. Menurutnya, waktu tidak mempunyai wujud yang berdiri sendiri. Ia tidak eksis terpisah dari alam semesta. Posisi waktu terhadap dunia mirip dengan keluasan ruang terhadap benda-benda fisik.Berdasarkan doktrin gerak substansial (Al Harakah Al jawhariyah), Sadra memandang waktu sebagai dimensi inheren alam semesta, bukan sesuatu yang menempel dari luar.
Alam fisik tidak hanya memiliki tiga dimensi ruang, tetapi juga satu dimensi waktu yang melekat secara internal karena substansinya sendiri bergerak secara terus menerus. Gerak yang terus-menerus ini, menurut Sadra, bukanlah gerak acak. Ia adalah proses evolusioner yang memiliki arah dan tujuan. Waktu sejati itu adalah waktu yang punya tujuan kosmis, bukan waktu untuk tujuan manusia. Waktu dengan tujuan kosmis adalah seluruh rangkaian ruang-waktu yang bergerak menuju satu puncak: wujud ilahiah, realitas yang bebas dari perubahan, mutasi, dan waktu. Dengan kalimat lain, waktu hanya berlaku bagi alam, tetapi tidak berlaku bagi Tuhan. Tuhan tidak berada "di dalam" waktu. Ia justru melampaui waktu sepenuhnya, karena Tuhan tidak mengalami gerak substansial.
![]() |
| Source : Google |
Walaupun demikian, dalam perkembangan selanjutnya, pandangan tentang waktu subyektif kemudian disingkirkan. Yang ada hanyalah pandangan tentang waktu obyektif. Waktu dipandang sebagai bagian nyata dari alam yang bisa diukur. Pandangan ini dikritik oleh Immanuel Kant. Filsuf asal Jerman ini berpendapat bahwa waktu merupakan bagian dari akal budi manusia. Ia tidak berada di alam nyata, tetapi di dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, waktu dapat membantu manusia sampai pada pengetahuan tentang dunia. Bagi Kant, waktu memiliki kaitan erat dengan ruang, yang merupakan bagian dari pikiran manusia. Gagasan inilah yang kemudian dikembangkan oleh Albert Einstein, yang pada akhirnya muncul konsep ruang-waktu. Einstein yang mengembangkan pemikiran Kant, melihat keterkaitan antara ruang dan waktu, tetapi Filsafat Timur justru melihat keterkaitan antara aku dan waktu.
Pandangan tentang waktu seperti ini, bergerak lurus: masa lalu-masi kini-masa depan. Namun ada pula pendapat yang berbeda. Mereka memiliki pandangan bahwa waktu itu bukan bergerak lurus, melainkan sebagai sebuah lingkaran. Waktu dalam pola lurus berarti masa lalu tidak akan kembali lagi. Sedangkan waktu sebagai lingkaran berarti segala sesuatu akan berulang dan membentuk pola yang tetap.
Terhadap dua tradisi pemilkiran tersebut (waktu yang bergerak lurus dan waktu yang berputar seperti lingkaran), Martin Heidegger kemudian berpendapat bahwa waktu merupakan horison hidup manusia. Filsuf asal Jerman ini berpandangan bahwa manusia berada dalam kenyataan dan selalu hidup dalam masa lalu, masa kini dan masa depan, yang terjadi secara bersamaan. Ketiga masa ini selalu hidup dalam diri kita. Misalnya, ketika kita berpikir, kita secara otomatis akan berpikir dalam kategori waktu yang berbeda. Konsep pemikiran Heidegger ini kemudian dikenal dengan temporalitas.
Pemikiran ini dipengaruhi oleh pemahaman Heidegger tentang manusia sebagai Dasein (yang berada-di-sana). Menurutnya, di mana pun seorang manusia berada, ia akan sadar akan apa yang pernah dialami (masa lalu), sedang dialami (masa kini) dan akan dialami (masa depan). Pada titik ini Heidegger membantah pemahaman Aristoteles yang hanya berpatokan pada masa kini. Menurut Aristoteles, masa lalu telah mengalir dan masa kini adalah saat ini yang mengalir ke masa lampau. Sedangkan masa depan adalah masa kini yang akan hadir.
Heidegger membantah hal ini dan kemudian memberikan beberapa syarat temporalitas, yakni: Pertama, manusia harus memiliki pemahaman tentang apa yang ia alami dan apa yang akan ia tuju. Kedua, manusia harus memiliki pemusatan pikiran (intensionalitas) terhadap kejadian yang sedang terjadi. Ketiga, manusia harus menyadari keterjatuhan dirinya, bahwa ia adalah yang terlempar sedemikian rupa dan akan menuju kematian.
Waktu, ternyata sulit untuk dipahami dan terus menjadi perdebatan yang belum tuntas. Namun yang pasti bahwa manusia hidup dalam waktu.
Sumpah Tuhan Kepada Waktu
Ketika manusia mendedah waktu dengan berbagai renungan dan kajian filsafat serta pemikiran mendalam seperti dilakukan Fakruddin Al Razi, Mulla Shadra, Santo Agustinus, Immanuel Kant, Aristoteles dan Martin Heidegger, sebagai sebuah kesempurnaan mutlak dan absolut, Tuhan justru menjadikan waktu sebagai sumpahnya kepada manusia.
Sumpah Tuhan pertama adalah وَالْفَجْرِۙ (demi fajar) (Al Fajr – 1 ). Sumpah ini, dalam teologi ketuhanan adalah sebagai awal mula kehidupan manusia, dimana biasanya diisi dengan harapan, resolusi, semangat, cita- cita dan impian yang menggebu-gebu. Pesan dari sumpah ini adalah Tuhan ingin melihat seberapa besar tekad hamba-hamba-Nya untuk memaksimalkan waktu mereka. Posisi ini sama keadaannya dengan kehidupan manusia saat ini,mengawali datangnya tahun baru, yang biasanya diisi dengan harapan, target, resolusi, dan sebagainya. Dan yang perlu diingat oleh manusia adalah sebaik-baiknya pencapaian manusia adalah mereka-mereka yang mampu memanfaatkan waktunya untuk kebaikan dan kebermanfaatan di jalan Tuhan.
Sumpah kedua Tuhan yang berkaitan dengan waktu adalah وَالضُّحٰىۙ (demi waktu dhuha). (Ad Dhuha: 1-2). Waktu Dhuha ini diibaratkan sebagai waktu produktif manusia atau masa kejayaan. Dalam waktu ini, Tuhan mencoba mengingatkan manusia untuk senantiasa mendekatkan diri pada-Nya dan memanfaatkan waktu produktifnya untuk membawa manfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa.
Sumpah Tuhan yang ketiga adalah وَالْعَصْرِۙ (Demi masa atau demi waktu ashar) (Al-‘ash : 1-2). Waktu ashar, biasanya diartikan sebagai waktu untuk istirahat, atau dapat pula dianalogikan sebagai masa tua manusia. Pada waktu ini, dominan manusia mengisinya dengan ratapan, penyesalan dan kerugian, karena pada masa produktifnya hanya fokus mengejar dunia dan melupakan Tuhan, kecuali mereka yang beriman kepada Tuhan sebenarnya senantiasa memprioritaskan waktunya untuk beribadah kepada Allah dan memberikan manfaat bagi manusia lain yang juga berada dijalan Tuhan.
Sumpah terakhir Tuhan yang berkaitan dengan waktu adalah وَالَّيْلِ (demi malam). Waktu malam, digambarkan sebagai waktu menjelang kematian, dimana melalui sumpah-Nya ini Tuhan mengingatkan manusia tentang kefanaan dunia, dan kewajiban mereka untuk mempertanggungjawabkan seluruh ‘waktu’ yang telah mereka habiskan semasa hidup.
“Melalui sumpah ini, Tuhan mengingatkan bahwa manusia tidak akan terus menerus hidup, tidak akan terus menerus muda, karena ada saatnya kita harus tidur, kita harus pulang ke pangkuan-Nya, dan mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan semasa hidup. Ketika hadir kedunia, manusia tidak membawa apa – apa dan ketika meninggalkan dunia, manusia juga tidak membawa apa – apa. Oleh karena itu sejatinya tidak ada kepemilikan manusia, semuanya kepunyaan Tuhan, ketika semua yang didapat manusia dipersembahkan kepada Tuhan, maka itulah yang disebut kekayaan dan harta yang dimiliki manusia dan waktu yang paling berharga bagi manusia adalah menghabiskan waktu bersama Tuhan secara fisik dan batin, secara jasmani dan Ruhani.
