MEMENTO MORI" DAN SEJARAH PARA PEMBISIK"
T. Muhammad Jafar Sulaiman
"Jika besok aku akan mati, apakah aku telah benar - benar hidup hari ini ?", adalah sebuah kalimat pendek nan mendalam dari frasa Latin "Memento Mori" yang artinya "ingatlah bahwa engkau hanya manusia fana". "ingatlah bahwa engkau akan mati",
Kalimat ini terdengar menyeramkan, tetapi justru dari kalimat inilah para filsuf kuno, terutama para filsuf stoik (Stoa) belajar menjalani hidup dengan sadar, bukan dengan rasa takut akan kematian, tetapi dengan rasa bahwa waktu manusia sangatlah terbatas, karena itu manusia harus hidup dengan bijak, hidup dengan benar dan hidup berkualitas.
Di zaman Romawi Kuno, setiap kali seorang jenderal Romawi pulang dari kemenangan perang, dia akan diarak Keliling kota dengan kereta perangnya, dia disambut gegap gempita sebagai seorang pahlawan, di puja, di elu – elukan, diagungkan dan hari itu dia menjadi dewa bagi rakyat.
Namun, yang paling menarik dari perhelatan ini adalah, dibelakang Sang Jenderal akan ada seorang budak (Auriga) yang tugasnya adalah membisikkan satu kalimat ketelinga Sang Jenderal : "memento mori", " "ingatlah kamu hanya manusia fana", "ingatlah kamu akan mati".
Kalimat ini diucapkan oleh sang budak bukan karena budak itu punya informasi rahasia, tetapi untuk mengingatkan sang jenderal agar tetap rendah hati dan tidak menjadi sombong meskipun sedang di puncak kejayaan, mencegah keangkuhan yang bisa membawa petaka dan untuk menjaga agar sang jenderal tetap waras ditengah segala pujaan dan keagungan yang didapat sang jenderal untuk mengingatkan agar dia sadar bahwa seberapapun besar pengaruh yang diberikan jenderal hari ini, besok pasti akan menjadi debu dan semuanya pasti akan berakhir.
Mengapa Budak ?
Mengapa yang membisikkan ketelinga Sang Jenderal adalah seorang budak ?, bukan permaisuri sang jenderal, atau pengawal pribadinya atau juga wakil sang jenderal ?
Budak adalah strata yang paling rendah dan ketika budak yang membisikan peringatan, itu menjadi sesuatu yang sangat kontras sekali sehingga menjadi pengingat yang baik sekali ketika sang Jenderal yang mulai merasa seperti dewa untuk diingatkan bahwa ia tetaplah manusia biasa yang akan mati suatu saat nanti.
Budak adalah juga simbol kejujuran absolut yang tidak punya kepentingan politik atau ambisi pribadi untuk menjilat jenderal. Bisikannya dianggap murni sebagai pengingat moral yang jujur, tidak tercampur pujian palsu. Jadi, bisikan itu bukan tentang "rahasia", melainkan "ritual pengingat moral" yang disematkan pada sosok paling rendah dalam hierarki manusia untuk menjaga kesucian hati seorang pemimpin.
Bagi seorang manusia yang berkuasa dan punya kekuasaan, dia punya kecenderungan bersifat "hubris" yaitu kesombongan atau keangkuhan yang ekstrem, rasa percaya diri berlebihan yang membuat seseorang merasa tak terkalahkan atau lebih unggul dari jangkauan Iahi atau batas manusia. Sifat hubris ini sering kali berujung pada kejatuhan atau kehancuran, seperti dalam banyak sejarah mitologi, di mana orang yang sombong akan dihukum Tuhan. Sifat Ini adalah cacat karakter yang mendorong seseorang mengabaikan nasihat, menolak kritik, dan suka mengambil risiko irasional.
Ketika yang membisikkannya adalah seorang budak, tujuannya adalah juga untuk mencegah sifat hubris dan ini adalah praktik penting melawan kesombongan yang berlebihan dan juga untuk keseimbangan yaitu memastikan sang jenderal tidak kehilangan akal sehatnya karena kekuasaan, kemuliaan , pujian, sanjungan yang didapatnya agar tidak larut dengan itu dan tetap fokus pada tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang sejatinya untuk melayani bukan untuk dipuji.
"Memento Mori" dan "Indonesia"
Hari ini, ditempat kita dan dikehidupan kita sekarang tidak ada lagi "Auriga", budak sang pembisik "Memento Mori" kepada Sang Jenderal penguasa, yang berdiri dekat dengan penguasa untuk membisikkan " bahwa engkau hanyalah manusia fana", tidak ada.
Yang ada hanyalah orang - orang yang duduk dan berdiri didekat sang jenderal sebagai orang bersih, rapi, necis dan merasa paling penting didunia, dan bukan membisikkan, "memento mori", tetapi " Tu es heros" "anda adalah pahlawan", "semua menyanjung anda", "semua memuji anda" dan semua itu adalah pujian palsu. Semua bisikan bukanlah bisikan dengan kejujuran absolut dan bisikan murni pengingat moral tanpa kepentingan, tetapi bisikan dan pujian palsu, menjilat untuk ambisi pribadi dan kepentingan politik tertentu.
Dulu, ketika Fir'un hendak beriman kepada Tuhan, sang pembisk Fir'un bernama "Haman" justru membisikkan kepada fir'un bahwa "Jika anda beriman kepada Tuhan dan anda tetap sebagai seorang raja, maka harga diri anda tidak ada lagi, anda akan ditinggalkan, dan tidak akan ada rakyat yang tunduk kepada Tuan, mendengar itu, Fir'un kembali menegaskan dirinya sebagai Tuhan dan dengan kesombongan yang semakin menjadi - jadi.
Jika budak dijaman dulu adalah kotor, dekil, lusuh, yang membisikan pengingat moral penting kepada sang jenderal, maka ditempat kita ada bisikan dan teriakan dari orang - orang yang tubuh dan wajahnya berlumpur, kotor dan mereka bukan budak, tetapi Tuan dinegeri ini, bisikan mereka ini dijawab dengan "semua baik dan semua terkendali"
"Memento Mori" adalah kebajikan kuno yang sangat penting sampai saat ini, untuk mengingatkan bahwa semua kekuasaan ada batasnya, semua kekuasaan pasti akan berakhir da ketika berakhir hendaklah dia meninggalkan segala kebaikan, bukan meninggalkan segala kerusakan.
