ORANG - ORANG YANG INGIN BERKUASA DENGAN AGAMA DI ACEH

T. Muhammad Jafar Sulaiman

Ketika manusia memulai sejarahnya, maka ketika itu bahasa menjadi bagian dari kekuasaan, yang kemudian bekerja melalui, seruan, khotbah, propaganda dan narasi - narasi yang sangat baik dan sopan dengan tujuan mengelabui kerja - kerja kekuasaan.

Kekuasaan juga butuh mitra yang dapat menjaga dan membela mereka karena kekuasaan menjadi objek yang akan selalu rentan diserang dan dipermasalahkan dan biasanya mitra nya adalah para agamawan, kelompok yang paling powerfull untuk mempermasalahkan dan menyerang kekuasaan, sehingga kekuasaan perlu menjadikan mereka mitra dengan tujuan membela kekuasan. Dalam fase ini, kekuasaan dan agamawan telah berada pada "circle" relasi kuasa informal yang bersatu dan tidak pernah terpisahkan.

Source : Meta AI

Dalam momen penyatuan ini , para  agamawan telah berada pada arena memanfaatkan dan mengambil berbagai keuntungan dari relasi tersebut (materi, posisi,status sosial, apresiasi sosial) dengan menciptakan propaganda agar kekuasaan selalu menegakkan agama, mengutamakan agama diatas segalanya, agar kekuasaan jangan pernah melenceng dari apa yang disampaikan para agamawan, dengan propaganda ini, para agamawan  seolah - olah ingin menjaga agar kekuasaan tidak melenceng dan selalu berada pada track yang benar dengan mengutamakan agama, padahal itu adalah untuk menciptakan ketakutan, ketergantungan kekuasaan kepada para agamawan.

Dalam lingkaran relasi kuasa ini, para agamawan yang sangat takut kehilangan pengaruh dan takut kehilangan umat juga berada pada posisi yang harus terus menjaga kepercayaan mendapatkan kepercayaan dari publik karena mereka dianggap pengayom dan pencerah umat, sehingga mereka menjaga itu dengan mengkritik pemerintah, mencoba merubah apa yang telah ditetapkan oleh kekuasaan, semuanya hanya untuk menjaga kepercayaan umat (publik). Ketika para agamawan melakukan kritik ini, seolah - olah para agamawan itu terpisah dari kekuasaan, padahal mereka tidak terpisahkan dan merupakan bagian dari kekuasaan melalui relasi kuasa yang telah terbangun tadi. Jadi para agamawan 

mengkritik kekuasaan hanya untuk terus mendapatkan kepercayaan dan kebersihan umat kepada mereka, bukan untuk memperbaiki kekuasaan. 

Indikator paling sederhana dari kondusi ini adalah para agamawan di Aceh lantang sekali bersuara dan berbicara pada persoalan - persoalan moral, akhlak, pada persoalan konser, pakaian, yang tidak berdampak sama sekali pada pertanggungjawaban kekuasaan dan para agamawan sama sekali tidak bersuara dan berbicara dengan lantang pada kelaparan, kemiskinan, kesulitan ekonomi yang dihadapi rakyat, pada perempuan - perempuan yang harus menanggung beban ganda untuk memenuhi ekonomi keluarga mereka, sama sekali tidak berbicara lantang dan menunjukkan aksi nyata pada persoalan korupsi, perusakan lingkungan, yang ini semua merupakan kewajiban kekuasaan untuk diwujudkan dan wajib menjadi pertanggung jawaban kekuasaan. 

Relasi kuasa yang sangat kejam antara para agamawan dan kekuasan ini kemudian bekerja tidak hanya diruang - ruang publik tetapi menyasar jauh kedalam ruang- ruang privat rakyatnya.

Relasi ini segera melakukan pendisplinan dan penghukuman terhadap rakyat. Sejarah mencatat, seperti di nubuwahkan oleh Michel Foucault bahwa dalam waktu kurang dari satu abad, bentuk penghukuman  telah berubah drastis dari kekerasan fisik diruang publik menjadi bentuk pengawasan dan kontrol yang tersembunyi dan sistematis. Dan di Aceh, penghukuman diruang - ruang publik yang sangat sistematis dan untuk mengontrol adalah menggunakan narasi - narasi Syriat Islam.

Apa tujuan orang - orang yang ingin  berkuasa dengan agama di Aceh yang mereka juga berelasi dengan kekuasaan ?. Tujuannya adalah untuk menciptakan manusia yang normal, patuh dan berguna bagi sistem. Normal menurut pikiran dan definisi mereka, patuh atas apa yang mereka serukan dan mereka inginkanDan berguna bagi sistem yang mereka ciptakan, berguna bagi sistem yang mereka ciptakan. Bukan patuh pada kebaikan, normal pada kebaikan  dan berguna bagi kebaikan.

Dimana letak jahatnya operasionalisasi relasi kuasa antara para agamawan dan kekuasaan di Aceh ?. Dalam dunia modern, bentuk hukuman kepada publik dibungkus dengan retorika menjaga moral, menjaga akhlak, menjaga sopan santun, tetapi itu semua adalah ekspresi kekuasaan, penekanannya tidak hanya pada tubuh rakyat (umat), tetapi juga pada jiwa, hasrat, kebiasaan dan kebebasan yang seharusnya bisa mereka jalani dengan tenang, bahagia dan damai.

Larangan tentang konser musik misalnya, secara normalnya itu bentuk dari upaya menjaga agama, menjaga akhlak generasi muda Aceh dan diruang publik itu adalah sebuah gerakan kebaikan menjaga Aceh secara bermartabat, tetapi secara halus, secara sistematis dan secara hakikatnya adalah sebuah penghukuman dan pendisiplinan inprosedural yang sangat tidak manusiawi yang dilakukan terhadap jiwa - jiwa rakyat Aceh,  terhadap hasrat rakyat Aceh, terhadap kebiasaan (kebiasaan manusia menikmati musik, menonton konser) dan kebebasan manusia (kebebasan untuk menentukan pilihan), jadi dengan relasi kuasa tersebut, manusia dipenjara diruang terbuka dan mereka melakukannya secara bebas karena tidak ada perlawanan terhadap itu.

Maka perlawanan terhadap itu adalah kebebasan sebenarnya dan pembiaran terhadap itu adalah penjara sebesar dunia...




Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Baca Juga Tulisan Lainnya :