SUFISME, STOIKISME DAN JALAN HIDUP MANUSIA

Ditengah kegaduhan dunia,  pasang surutnya ketegangan antar peradaban yang tidak pernah selesai dan pertarungan manusia dengan kepercayaan yang terus bermasalah, ketidak adilan hidup yang mirip abadi,  ada dua ajaran yang paling relevan untuk membantu manusia bertahan secara mental dan spiritual yaitu Stoikisme dari Yunani Kuno dan Tasawuf dari tradisi Islam. Keduanya sama-sama menawarkan keteguhan jiwa, ketenangan jiwa meskipun dengan pendekatan yang berbeda, keduanya bisa berarsiran,  tetapi sering dianggap tidak berhubungan karena berasal dari akar budaya dan landasan pijakan yang berbeda. Stoikisme mengajarkan bahwa hidup akan lebih ringan jika manusia berhenti memaksakan kendali atas hal-hal yang memang berada di luar jangkauan kita. Fokus pada apa yang bisa kita kendalikan : pikiran, respons, sikap, dan pilihan. Sementara hal-hal seperti perkataan orang, masa lalu, atau hasil yang belum terjadi, harus dilepas dari obsesi. 
Stoikisme  ini seperti sistem navigasi mental, dia tidak mengubah medan hidup manusia, tapi mengubah cara manusia menapakinya. Logis, tegas, dan cenderung rasional. Pegangan ajaran ini adalah Quotes dari Marcus Aurelius  yaitu : "You have power over your mind --- not outside events. Realize this, and you will find strength." (Kamu memiliki kendali atas pikiranmu—bukan peristiwa diluar diri. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.)
Jika Stoikisme bekerja di ranah pikiran, Tasawuf bekerja di ranah hati. Di dalam Tasawuf, ada ajaran untuk ikhlas, ridha, zuhud, dan tawakal, yaitu melepaskan kemelekatan berlebihan pada dunia dan bersandar kepada Allah. Tetapi bukan dengan cara menyerah tanpa usaha; justru dengan bekerja sebaik mungkin dengan segala kesadaran hati dan pikiran bahwa  hasil akhir bukan wilayah manusia. Tasawuf itu seperti udara hangat bagi jiwa. Ia tidak hanya mengatur bagaimana manusia merespons dunia dengan segala problemnya, tapi juga memberi arah kepada siapa hati, pikiran, jiwa dan ruh kembali.
Meski berbeda dasar, ada jembatan pemahaman yang menghubungkan keduanya. Stoikisme menekankan kendali diri, sementara Tasawuf menekankan penyucian diri. Dua konsep ini sama-sama menolak tunduk pada ego dan emosi yang sesaat. Saat Stoikisme mengajak untuk menerima hal-hal yang tak bisa diubah, Tasawuf mengajarkan ridha atas takdir dengan keyakinan spiritual kepada Allah. Keduanya juga sama-sama mengingatkan bahwa hasil dunia bukan satu-satunya ukuran nilai hidup. Pada Stoikisme, kita diajak untuk fokus pada tindakan, bukan hasil. Pada Tasawuf, konsep ini hadir dalam bentuk tawakal---berusaha sepenuh hati, tapi menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.  Dari sini kita bisa memahami bahwa titik temu mereka bukan pada jenis ibadah, bukan pada landasan teologi, melainkan pada sikap mental: berdamai dengan yang tidak bisa dikendalikan dan tidak bisa diubah dan bersungguh-sungguh terhadap yang bisa diperjuangkan. 

Source : Google 
Lalu mengapa keduanya penting untuk manusia saat ini?. Kombinasi nilai dari dua pendekatan ini sangat relevan untuk kita yang hidup di era kompetitif dan sensitif seperti sekarang. Di satu sisi, kita perlu ketegasan mental agar tidak roboh oleh komentar dan ekspektasi orang. Di sisi lain, kita butuh kehangatan spiritual agar tidak membatu menjadi manusia yang hanya bergantung pada logika. Stoikisme membentuk keteguhan pikiran. Tasawuf membentuk kedalaman hati, dan manusia, butuh keduanya untuk tetap utuh sebagai manusia. Kesimpulan Pada akhirnya, saya melihat Stoikisme dan Tasawuf bukan sebagai dua kubu yang bertentangan, melainkan sebagai dua jalan yang kebetulan mengarah pada tujuan yang serupa: ketenangan batin. Yang satu lewat logika, yang lain lewat cinta. Yang satu menata pikiran, yang lain menuntun hati. Jika keduanya bisa berjalan berdampingan, maka manusia akan punya bekal yang kuat untuk menghadapi dunia tanpa kehilangan arah, sekaligus tanpa kehilangan jiwa.
Stoikisme lahir dari kegelisahan manusia terhadap dunia yang tidak selalu dapat dikendalikan. Ia mengajarkan manusia untuk membedakan antara apa yang berada dalam kendali dan apa yang berada di luar kendali, kemudian menerima kenyataan dengan keteguhan jiwa. Bagi kaum Stoik, kebahagiaan tidak terutama ditentukan oleh kekayaan, kedudukan, pujian, atau keadaan eksternal, melainkan oleh keadaan internal, kemampuan manusia mengatur penilaian, kehendak, dan respons batinnya sendiri. Dalam banyak hal, ajaran ini memiliki kedekatan dengan disiplin spiritual. Namun, jika Stoikisme dibaca dari perspektif Tasawuf, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah ketenangan jiwa merupakan tujuan akhir manusia, ataukah ia hanya sebuah pintu menuju pengenalan yang lebih dalam terhadap ketenangan ruh, kesucian jiwa dan ruh, hakikat diri, hakikat Tuhan, dan keberadaannya?. Barangkali dari sinilah kritik Tasawuf terhadap Stoikisme dapat dimulai. 
Ajaran Stoikisme adalah seni untuk menerima kenyataan. Stoikisme mengajarkan amor fati, (Fatum Brutum Amor Fati) mencintai atau menerima takdir sebagaimana adanya. Manusia tidak perlu menghabiskan energi untuk melawan sesuatu yang berada di luar kuasanya. Ia harus menerima kematian, kehilangan, kegagalan, perubahan, dan berbagai keadaan dunia dengan keteguhan batin. Ajaran ini memiliki nilai etis dan kekuatan pengendalian diri dari dalam yang kuat. Tetapi  positioning ini jika ingin kita lihat dari mata batin Tasawuf, maka penelusuran mendalamnya akan lahir dari pertanyaan lebih lanjut  dan lebih jauh: Siapakah yang menerima takdir itu? Dan apa sebenarnya yang disebut sebagai "takdir"?. Dalam tasawuf, menerima kenyataan bukan sekadar latihan psikologis agar manusia menjadi lebih tenang. Penerimaan atas segala kondisi yang dialami tanpa menylahkan segala kondisi, maka itu adalah jalan untuk penyingkapan keterbatasan manusia bahwa manusia punya keterbatasan kemampuan, akal, emosioal dan kontrol terhadap ego sehingga kondisi tersebut akan terbenahi dan terkoreksi oleh Tuhan. Manusia mulai menyadari bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu dan Tuhan lah pusat dari segala sesuatu dan tahap tertinggi adalah “binasa diri”, binasa diri bukan berarti mati, tetapi tidak ada lagi ke diri an manusia yang dibawa dihadapan Tuhan hanya Tuhan lah yang ada, rumusnya adalah : “ ada AKU tiada engkau, ada engkau tiada AKU”, tiada lagi diri manusia, yang ada hanyalah Tuhan, ketika manusia memasuki tahap ini, maka semua kehendak adalah kehendak Tuhan, bukan kehendak manusia. 
Stoikisme masih berangkat dari penguatan diri Salah satu kekuatan Stoikisme sekaligus titik yang dapat dikritik adalah penekanannya pada penguasaan diri. Manusia diajak menjadi kuat, rasional, disiplin, dan tidak diperbudak oleh emosi.Namun dari perspektif Tasawuf persoalannya bukan hanya bagaimana menguasai diri, tetapi bagaimana melampaui keterikatan kepada diri. Stoikisme bertanya: Bagaimana aku dapat menjadi manusia yang teguh menghadapi dunia? Tasawuf mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: Mengapa masih ada "aku" yang merasa harus menjadi teguh? Dalam tasawuf, ego (nafs) bukan sekadar sesuatu yang harus dilatih agar menjadi kuat. Ia justru harus dikenali, ditundukkan, bahkan pada tingkat tertentu dilampaui melalui proses penyucian jiwa. Di sinilah konsep fana menjadi penting. Fana bukan berarti manusia menjadi tidak ada secara biologis, melainkan runtuhnya klaim ego bahwa dirinya merupakan pusat realitas.  
Dari ketenangan menuju kefanaan ego Stoikisme mengejar ketenangan (ataraxia) dan keteguhan dalam menghadapi perubahan kehidupan. Tasawuf juga mengenal ketenangan, tetapi ketenangan dalam tasawuf tidak berhenti sebagai keadaan psikologis. Orang yang tenang belum tentu mengenal hakikat. Seseorang bisa saja tidak marah, tidak takut, tidak panik, dan mampu mengendalikan emosinya, tetapi masih sangat kuat mempertahankan ego: aku yang sabar, aku yang kuat, aku yang bijaksana, aku yang mampu menerima takdir.
Tasawuf justru mencurigai "aku" tersebut. Sebab selama manusia masih sibuk membangun citra tentang dirinya sebagai manusia yang kuat dan spiritual, ia mungkin masih terperangkap dalam ego yang lebih halus. Maka tasawuf membawa manusia dari pengendalian diri menuju pengenalan diri, dan dari pengenalan diri menuju pengenalan kepada Tuhan. 
Diri manusia yang sejati sesungguhnya bukan diri kita yang didefinisikan oleh  agama, dimaknakan oleh filsafat, di sistematisasi oleh sosiologi-antropologi, diri yang bisa dibedah dengan pisau bedah atau dengan berbagai teori psikologi kepribadian oleh para psikolog. Diri kita yang ini—yang jasadnya kita gunakan dalam interaksi, dalam bekerja, dalam berhubungan sosial dengan orang lain—sesungguhnya merupakan bentukan dari lingkungan, orangtua, pemikiran, norma, tren, atau paradigma yang ada di zaman kita masing-masing. Dengan kata lain, diri kita yang ini adalah hasil bentukan, dari dinamika lingkungan luar yang berinteraksi dengan aspek jasadi dan aspek psikis kita. Paduan komposisi dari semua itulah yang membentuk diri kita yang “jasadi”. Diri kita yang ini, meski unik, adalah diri yang semu. Ini bukan diri kita yang sesungguhnya dan sebenarnya.
Diri yang sebenarnya adalah diri yang didefinisikan oleh Tuhan, bukan diri yang diartikan oleh manusia sendiri. Diri yang dikenalkan kepada manusia oleh Tuhan, yang dimaksud dan dipanggil Allah sebagai “diri” pada manusia, sejatinya adalah yang Dia sebut sebagai “nafs” dalam Al-Qur’an. Nafs, dalam bahasa kita, adalah “jiwa”. Nafs-lah (jamak: anfus, jiwa-jiwa) yang dipanggil dan disumpah Allah untuk mempersaksikan bahwa Allah adalah Rabb-nya.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. 
(Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)”
Nafs manuia sudah ada bahkan sebelum alam semesta ada. Ia juga yang terus akan melanjutkan hidup di alam barzakh dan alam-alam berikutnya setelah kelak jasad kita dengan pikiran, hafalan dan semua gagasan yang menyertainya—dan semua dinamika psikis yang terkait dengannya—akan mati, lenyap, hancur terurai menjadi tanah. Itulah sebabnya, akan sangat berbahaya jika kita memahami agama hanya berupa hafalan dalil dan konsep di kepala, namun tidak terpahami secara mengakar hingga ke jiwa. Seiring dengan hancurnya otak kita, maka semua konsep di dalamnya pun akan lenyap, sementara jiwa kita melanjutkan perjalanannya dengan tidak membawa apa-apa
“Logos” Dalam  Stoik dan “Haqq” dalam Tasawuf
Stoikisme memiliki gagasan tentang Logos, prinsip rasional yang mengatur kosmos. Manusia yang hidup baik adalah manusia yang menyelaraskan kehidupannya dengan tatanan rasional alam semesta. Di sini terdapat kemiripan menarik dengan pandangan metafisis dalam tradisi tasawuf. Akan tetapi, tasawuf tidak berhenti pada kosmos sebagai tatanan rasional. Hakikat bukan sekadar keteraturan alam. Hakikat menunjuk kepada Al-Haqq, Yang Maha Benar. Dengan demikian, manusia tidak hanya diajak hidup selaras dengan alam, tetapi diarahkan kepada kesadaran bahwa seluruh keberadaan bergantung kepada Yang Haqq.
Perbedaannya menjadi sangat mendasar: Stoikisme mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan tatanan kosmos; tasawuf mengajak manusia menembus kosmos menuju pengenalan terhadap sumber segala wujud.
Tasawuf memiliki konsep yang jauh lebih radikal tentang pengetahuan yaitu makrifat. Makrifat bukan sekadar mengetahui Tuhan secara intelektual. Ia adalah transformasi kesadaran. Pengetahuan tentang Tuhan harus mengubah cara manusia melihat dirinya, dunia, dan keberadaan. Karena itu, orang yang banyak berbicara tentang Tuhan belum tentu seorang 'arif, sebelum dia mengenal dan berjumpa Tuhan. Makrifat bukan banyaknya informasi tentang Tuhan, melainkan bagaimana Cahaya Tuhan selalu hadir dan menyatu bersama manusia sehingga semakin dalam kesadaran bahwa manusia tidak memiliki kemandirian wujud sebagaimana yang dibayangkan ego, karena wujud sebenarnya adalah Tuhan.. Di sinilah tasawuf mengkritik kecenderungan rasionalisme Stoikisme. Akal penting, tetapi akal bukan puncak perjalanan spiritual. Ada wilayah kesadaran yang harus ditempuh melalui penyucian jiwa, pengalaman batin, dzauq, dan penyingkapan (kasyf). 
Stoikisme mengajarkan penerimaan terhadap apa yang terjadi. Tasawuf mengajak manusia bergerak lebih jauh: bukan hanya menerima kejadian, tetapi menyaksikan kehendak Tuhan di balik kejadian tanpa menghapus tanggung jawab manusia. Ini penting. Tasawuf tidak mengajarkan fatalisme. Manusia tetap berikhtiar, memilih, berbuat, dan bertanggung jawab. Namun setelah ikhtiar dilakukan, ego tidak lagi mengklaim bahwa dirinya adalah penguasa mutlak atas hasil. Dalam bahasa spiritual, manusia berusaha dengan seluruh kemampuannya, tetapi menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam wilayah kehendak Tuhan. Maka tawakal bukan pasrah kepada keadaan. Tawakal adalah pelepasan klaim ego manusia atas hasil. 
Barangkali inilah kritik paling mendasar Tasawuf terhadap Stoikisme. Stoikisme ingin menjadikan manusia penguasa atas dirinya. Tasawuf bertanya: Apakah manusia benar-benar dapat menjadi penguasa atas dirinya selama ia masih dikuasai oleh ego nya sendiri"? Seseorang mungkin berhasil mengendalikan kemarahan, tetapi masih dikuasai kesombongan. Ia mungkin berhasil mengendalikan keinginan terhadap harta, tetapi masih menginginkan pengakuan. Ia mungkin mampu menerima penderitaan, tetapi diam-diam bangga karena merasa dirinya lebih kuat daripada manusia lain. Karena itu, tasawuf tidak hanya membersihkan perilaku lahiriah. Ia menyelidiki akar batin dari semua perilaku: nafs dan ego. 
Manusia adalah makhluk yang rasional menuju makhluk yang mencari Tuhan. Stoikisme melihat manusia sebagai bagian dari kosmos yang memiliki kemampuan rasional untuk hidup sesuai dengan hukum alam. Tasawuf melihat manusia secara lebih metafisis: manusia bukan sekadar makhluk rasional yang harus hidup baik, tetapi makhluk yang memiliki perjalanan menuju pengenalan terhadap asal dan tujuan keberadaannya. Pertanyaan manusia akhirnya bukan hanya: "Bagaimana aku harus hidup?" Tetapi: "Dari mana aku berasal?" "Siapakah aku sebenarnya?" "Mengapa aku ada?" "Ke mana aku kembali?" Dan yang paling radikal: "Siapakah Tuhan yang selama ini kusebut sebagai Tuhan?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa manusia dari etika menuju metafisika, dari perilaku menuju kesadaran, dan dari kesadaran menuju makrifat. 
Pada akhirnya,  Stoikisme sebagai pintu, bukan tujuan Kritik Tasawuf terhadap Stoikisme tidak harus dipahami sebagai penolakan total. Stoikisme memiliki pelajaran penting yaitu jangan diperbudak oleh keadaan, jangan dikuasai emosi, jangan menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang berada di luar diri, dan belajarlah menerima apa yang tidak dapat diubah. Tetapi bagi tasawuf, semua itu belum merupakan akhir perjalanan.Ketenangan bukanlah hakikat tertinggi. Pengendalian diri bukanlah hakikat tertinggi. Bahkan kesabaran pun bukanlah hakikat tertinggi. Sebab masih ada satu pertanyaan yang jauh lebih dalam: Siapakah "aku" yang sedang tenang, sabar, kuat, dan menerima itu? Ketika pertanyaan tersebut benar-benar masuk ke dalam kesadaran, perjalanan spiritual berubah arah. Manusia tidak lagi sekadar belajar mengendalikan ego, tetapi mulai melihat bahwa ego itu sendiri adalah sesuatu yang harus dikenali. 
Dari sinilah perjalanan Hakikat dimulai. Dan ketika tabir keakuan semakin tipis, manusia memasuki wilayah Makrifat—bukan sekadar mengetahui tentang Tuhan, tetapi menyadari keterbatasan dirinya di hadapan Yang Tak Terbatas. Dengan demikian, jika Stoikisme berkata: "Jadilah kuat menghadapi dunia." Tasawuf menjawab: "Kenalilah siapa dirimu, agar engkau mengetahui siapa yang sebenarnya memiliki segala daya." Dan jika Stoikisme mengajarkan: "Terimalah takdir." Tasawuf mengajak lebih jauh: "Kenalilah Sang Penentu, lalu lepaskan kesombongan bahwa engkau adalah pusat dari segala sesuatu." Pada titik itu, manusia tidak lagi sekadar menjadi Stoic yang tenang menghadapi dunia. Ia mulai menjadi seorang pencari hakikat—yang perlahan belajar bahwa perjalanan terjauh bukanlah perjalanan menuju dunia di luar dirinya, melainkan perjalanan menembus dirinya sendiri.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Baca Juga Tulisan Lainnya :