MEMBEDAH DEFINISI MANUSIA MARTIN HEIDEGGER DENGAN TASAWUF FALSAFI
Pertanyaan tentang manusia selalu menjadi pertanyaan yang paling utama dan mendasar dalam filsafat. Siapakah manusia?. Dari mana ia berasal?. Untuk apa ia ada? Dan mau ke mana manusia? selalu ada selama manusia ada. Martin Heidegger adalah raksasa filsafat Barat yang mengajukan kritik mendasar terhadap cara filsafat Barat memahami “Ada” (Being). Filsafat Heidegger adalah filsafat yang mempersoalkan tentang “ada” di dunia ini, pertanyaan utamanya adalah : “Mengapa Yang Ada itu ada, bukan tiada”. Fokusnya adalah cara berada manusia di dunia, yang tentu berbeda dengan cara berada pohon, cara berada negara, cara berada meja, kursi, cara berada hewan dan lainnya, cara berada manusia adalah cara berada yang unik, yakni sebagai Dasein (ada disana).
Bagi Heidegger, manusia bukan sekadar benda yang berada di antara benda-benda lainnya. Manusia adalah Dasein, "yang-berada-di-sana". Dasein memiliki kemampuan untuk mempertanyakan keberadaannya sendiri, yang tidak mungkin dilakukan oleh hewan, pohon, dan lainnya. Manusia menyadari bahwa ia ada, tetapi kesadaran itu sekaligus memperlihatkan bahwa manusia mengalami keterlemparannya ke dalam dunia (Geworfenheit), tiba-tiba terlempar dengan sendirinya dan tanpa sebab, ujug-ujug, manusia sudah ada didunia. Ia tidak memilih tempat, waktu, keluarga, ataupun kondisi awal keberadaannya. Ia mendapati dirinya sudah berada di dunia. Secara radikal, Heidegger mengatakan bahwa katakanlah jika agama tidak ada, ilmu pengetahuan tidak ada, sejarah tidak ada, toh manusia itu ada , dari mana dia, mengapa bisa ada, artinya jika tanpa agama, tanpa cerita kitab suci, tanpa ilmu pengetahuan pun manusia tetap ada.
Dasein ini juga merupakan keberadaan-menuju-kematian (Sein-zum-Tode). Kesadaran bahwa kematian merupakan kemungkinan paling pasti dalam kehidupan membuat manusia berhadapan dengan keterbatasan eksistensinya. Di sinilah Heidegger memberikan tekanan besar bahwa manusia adalah makhluk yang berada dalam kemungkinan, kecemasan, keterlemparan, temporalitas, dan kematian. Disini Heidegger juga mendefinisikan manusia sebagai makhluk yang karena cemas, tidak tahu mau kemana, punya keterbatasan eksistensinya, maka manusia sering berkumpul, berkerumun, bergerombol dan suka membicarakan omong kosong, membicarakan hal – hal yang tidak penting, yang ada kalanya tidak berhubungan sama sekali dengan kepentingan manusia, suka bergosip, bercerita yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan keberadaan dirinya sendiri.
![]() |
| Source : AI |
Menurutnya, manusia tidak cukup dipahami hanya sebagai animal rationale—makhluk hidup yang memiliki rasio. Manusia harus dipahami dari cara keberadaannya sendiri, , keberadaan yang terbuka terhadap pertanyaan tentang Ada (Sein).
Namun, apakah konsep Dasein telah mengungkap seluruh kedalaman manusia?. Di sinilah Tasawuf Falsafafi hadir bukan sekadar sebagai alternatif, tetapi sebagai sebuah gugatan ontologis. Jika Heidegger membawa manusia kembali kepada pertanyaan tentang Ada, cara berada manusia dan mau kemana manusia, Tasawuf Falsafafi membawa pertanyaan itu lebih jauh: siapakah "Manusia" yang mengalami Ada, dan bagaimana hubungan keberadaan manusia dengan Yang Mutlak, ?
Bagi Tasawuf Falsafafi apa yang difatwakan Heidegger tersebut dpat dilanjutkan dengan pertanyaan : Apakah manusia hanya berhenti pada keterlemparannya ke dunia dan kesadarannya terhadap kematian?. Jika Heidegger mengatakan bahwa manusia adalah “ada menuju kematian”, maka bagi Tasawuf Falsafafi manusia adalah jalan menuju yang mutlak. Tasawuf Falsafafi, terutama dalam tradisi pemikiran Ibn Arabi dan para pemikir sufi-filosofis lainnya melihat manusia dalam horizon ontologi yang jauh lebih luas. Manusia bukan hanya makhluk yang menyadari Ada, tetapi makhluk yang keberadaannya bergantung secara ontologis kepada Yang Ada secara Mutlak. Dalam perspektif ini, keberadaan manusia bukan keberadaan yang berdiri sendiri. Manusia adalah wujud yang tidak independen. Ia ada karena diadakan. Jika Heidegger bertanya tentang Sein, Tasawuf bertanya lebih jauh tentang Wujud Mutlak. Dengan demikian, persoalannya bukan hanya: "Apa arti keberadaan manusia?" tetapi juga: "Bagaimana mungkin manusia ada jika keberadaannya bukan berasal dari dirinya sendiri?" Pertanyaan ini menggeser pusat perhatian dari sekadar analisis eksistensial menuju persoalan metafisika dan spiritualitas.
Dari Dasein menuju Insan Kamil
Salah satu titik penting Tasawuf Falsafafi adalah konsep Insan Kamil—manusia sempurna.
Jika Dasein Heidegger menggambarkan manusia sebagai keberadaan yang terbuka terhadap kemungkinan dan menyadari kematiannya, maka Insan Kamil menggambarkan manusia sebagai keberadaan yang dapat mengalami transformasi spiritual menuju kesadaran yang lebih tinggi. Manusia bukan sekadar "yang berada". Manusia adalah yang dapat menjadi. Ia dapat bergerak dari kesadaran tentang dirinya menuju kesadaran tentang sumber keberadaannya. Dalam tradisi Tasawuf Falsafi, manusia memiliki kedudukan istimewa sebagai cermin bagi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Manusia menjadi semacam barzakh, sebuah perantara antara berbagai dimensi keberadaan. Di sinilah Tasawuf Falsafafi melakukan gugatan terhadap Heidegger. Jika manusia hanya dibaca sebagai Dasein, maka manusia terutama dipahami melalui relasinya dengan dunia, waktu, kemungkinan, dan kematian. Tetapi jika manusia dibaca sebagai Insan Kamil, maka manusia juga dipahami melalui relasinya dengan Yang Tak Terbatas.
Heidegger menempatkan kematian sebagai horizon fundamental eksistensi. Manusia adalah makhluk yang hidup menuju kematian. Tasawuf tidak menolak kematian, tetapi memberikan makna yang berbeda terhadapnya. Kematian fisik bukan satu-satunya kematian yang penting. Dalam tasawuf dikenal gagasan tentang kematian ego, kematian keakuan yang menjadi penghalang antara manusia dan Tuhan. Di sini muncul perbedaan yang menarik. Heidegger bertanya: Bagaimana manusia hidup ketika ia sadar bahwa ia akan mati?. Tasawuf bertanya: Apa yang harus mati dalam diri manusia agar ia benar-benar hidup?. Pertanyaan kedua membawa kita dari eksistensi menuju transformasi spiritual. Manusia tidak hanya dituntut untuk menjadi autentik terhadap dirinya, tetapi juga untuk melampaui dirinya.
Heidegger mengkritik keberadaan manusia yang tenggelam dalam Das Man—keadaan ketika manusia hidup sebagaimana "orang-orang" hidup. Manusia kehilangan dirinya karena mengikuti opini, kebiasaan, dan standar umum. Tasawuf memiliki kritik yang hampir serupa, tetapi dengan arah metafisik yang berbeda. Tasawuf mengkritik nafs dan ego sebagai pusat ilusi keakuan. Manusia berkata: "Aku."Tasawuf kemudian bertanya :"Aku yang mana?" Apakah "aku" adalah pikiran?, apakah "aku" adalah ingatan?, apakah "aku" adalah status sosial?. Ataukah semuanya hanyalah lapisan-lapisan pengalaman yang berubah?. Pertanyaan ini membawa manusia kepada pengalaman fana'—peluruhan keakuan—dan kemudian baqa', keberlangsungan dalam kesadaran kepada Tuhan. Dengan demikian, jika Heidegger berbicara tentang keautentikan eksistensi, Tasawuf berbicara tentang pemurnian eksistensi.
Dari “Ada Menuju Kematian” kepada “ Ada Menuju Tuhan”
Di sinilah gugatan paling mendasar dapat dirumuskan. Bagi Heidegger: Manusia adalah keberadaan-menuju-kematian, bagi Tasawuf Falsafafi: Manusia adalah keberadaan-menuju-Tuhan. Namun keduanya tidak harus dipahami sebagai dua pandangan yang sepenuhnya bertentangan. Justru kesadaran akan kematian dapat menjadi pintu menuju kesadaran spiritual. Ketika manusia menyadari bahwa dirinya fana, ia mulai mempertanyakan apa yang tidak fana. Kematian kemudian bukan hanya akhir biologis, tetapi sebuah cermin yang memperlihatkan keterbatasan manusia. Dan dari kesadaran atas keterbatasan itu muncul pertanyaan tentang Yang Tak Terbatas.
Heidegger telah melakukan sesuatu yang penting bagi filsafat: ia membebaskan manusia dari definisi sederhana sebagai makhluk rasional dan mengembalikannya kepada persoalan keberadaan. Namun Tasawuf Falsafafi dapat menggugat Heidegger dengan mengatakan bahwa membuka manusia kepada pertanyaan tentang Ada belum tentu membuka manusia kepada sumber dari Ada itu sendiri. Manusia bukan hanya makhluk yang bertanya : "Mengapa aku ada?" Ia juga dapat bertanya: "Dari mana keberadaanku berasal?", Dan lebih jauh: "Siapakah aku ketika seluruh identitas yang selama ini kusebut sebagai 'diriku' runtuh?".
Pada titik ini, manusia tidak lagi hanya menjadi Dasein yang berdiri di hadapan kematian. Ia menjadi pencari makna, pencari Wujud, dan pencari Yang Mutlak. Mungkin, dengan demikian, manusia tidak dapat didefinisikan secara final. Sebab manusia adalah makhluk yang selalu melampaui definisi tentang dirinya sendiri. Heidegger membawa manusia dari "manusia sebagai makhluk rasional" menuju Dasein. Tasawuf Falsafafi membawa “manusia dari Dasein menuju Insan Kamil”. Dan di antara keduanya terdapat sebuah pertanyaan yang mungkin tidak pernah selesai: Jika manusia adalah makhluk yang mencari Tuhan, lalu bertemu, mungkinkah pencarian itu pada akhirnya adalah perjalanan manusia untuk menemukan siapa dirinya sendiri?
