PERJALANAN KESEKIAN : BUKIT GIBEON, OMPU RAJA SIRAIT DAN FALSAFAH HIDUP ORANG-ORANG BATAK
T. Muhammad Jafar
Di tengah kehidupan dunia yang semakin maju, canggih, semakin intens serta terbuka lebarnya ruang – ruang perjumpaan kebudayaan, Aceh justru menjadi sebuah Propinsi tanpa Bioskop dan Kota Banda Aceh justru menjadi sebuah Ibukota tanpa Bioskop. Kehidupan tanpa bioskop ini telah berusia kurang lebih 25 tahun. Bioskop telah ada di Banda Aceh sejak tahun 1930 an, telah ada bahkan jauh sebelum listrik ada di Aceh. Ketika kehidupan manusia belum semaju hari ini, bioskop telah hadir diruang publik Aceh (sejak 1930 an), namun 96 tahun kemudian (2001), ketika kehidupan manusia telah sedemikian maju dan teratur, bioskop justru dihilangkan dari Aceh. Maju atau mundur perjalanan peradaban yang seperti ini ?
Dalam perjalanan hidup orang Aceh 20 tahun terakhir, bioskop adalah”kemewahan sederhanana” yang telah dihilangkan oleh orang Aceh sendiri, sehingga semua orang Aceh harus mencari kemewahan tersebut keluar Aceh dan yang terdekat adalah medan, sebuah wilayah dengan komposisi Melayu, Batak, Padang dan Jawa nya yang asik, yang punya beragam kemewahan untuk dinikmati, menemukan ini sama seperti menemukan surga diluar tempat sendiri.
Manusia adalah musafir didunia dan dunia bagi seorang manusia bukanlah negeri untuk menetap dan juga bukan sebagai tempat tinggal, tetapi sebuah perjalanan, berjalan dari satu tempat ketempat lain, dari satu negeri ke negeri lain, dari satu kebudayaan dan kebiasaan menuju kebudayaan dan kebiasaan lain, dari satu kepercayaan kepada kepercayaan lain. Dunia adalah tempat singgah sebentar saja bagi manusia dalam perjalanannya menuju keabadian. Pada hakikatnya, akhirat, surga, neraka, pengadilan semua telah ada didunia, semua telah terjadi didunia, karena itu semua adalah dimensi, manusia hanya tinggal berpindah saja, semuanya tetap sama juga, hanya berbeda dimensi saja, ketika manusia mati, maka dimensi berubah, dari fisik kepada ruh. Bagi seorang sufi yang sering beritikaf (suluk), dunia adalah perjalanan dari kelambu kecil menuju kelambu besar, suluk adalah kelambu kecil dan ketika suluk selesai manusia kembali berjalan kekelambu besar dan akan kembali lagi ke kelambu kecil.
Pada berbagai perjalanan yang telah dilakukan dan akan terus dilakukan, titik petemuan antara Aceh dan Batak tetaplah bioskop dan filosofi hidup, bioskop adalah film dan filosofi hidup adalah ruang pertemuan untuk saling menyelami filosofi hidup masing – masing kebudayaan. Ketika bicara film, katakanlah itu misalnya “Film Agak Laen 1 dan Agak Laen 2”, orang Aceh menemukan surganya dalam sebuah ruang fisik bioskop dan orang Batak men delivery filosofi hidup nya melalui film yang ditonton oleh orang Aceh, kondisi ini juga terbalik ketika orang Aceh harus menonton film Malahayati di medan dan menelusuri filosofi hidupnya bukan ditempat sendiri, tetapi ditempat orang, dan orang Batak menyelami filosofi hidup orang Aceh ditengah kerumunan orang Aceh ketika berada di bioskop. Disatu sisi, kita bisa berkesimpulan bahwa orang Aceh adalah orang – orang yang paling menderita didunia, tidak bisa bebas dinegeri sendiri dan harus mencari kebebasan dinegeri orang lain, tidak bisa memajukan daerah sendiri dengan uang, tetapi sangat rajin meng infakkan uangnya kenegeri orang lain. Tidak ada yang paling menderita selain orang Aceh, negerinya kaya Sumber Daya Alam, tetapi rakyatnya hidup miskin, punya sejarah heroisme dan keberanian yang luar biasa mencengangkan, tetapi hari ini hidup dalam ketakutan dan kecurigaan yang sangat berlebihan kepada bioskop, kepada musik dan kepada orang – orang lain yang berbeda, punya banyak dan ramai sekali orang hebat, smart, pintar, pionir dalam segala terobosan pengelolaan daerah (Bappeda – Bappenas, Bank Pembangunan Daerah, JKA, dll), tetapi takut dan tunduk pada segelintir orang – orang yang tidak tamat sekolah dan tunduk serta takut pada sekelompok kecil orang – orang yang selalu membajak agama untuk memperkaya diri dan kelompok kecilnya tersebut.
Hanya manusialah yang memiliki budaya, melalui budaya manusia menjadi sadar akan dirinya, sadar akan konteks kehidupannya, dan sadar akan tujuan hidupnya. Melalui budaya juga manusia mengerti bahwa ia berada dalam jaringan nilai dan berbagai relasi. manusia pada hakikatnya berusaha untuk mempertahankan identitas budaya yang melekat pada dirinya yang menunjukkan kekhasannya sebagai manusia yang berbudaya. Karakteristik yang ada dalam budaya berperan dalam proses pembentukan karakter setiap manusia baik secara individu maupun bersama. Implementasi dari budaya tersebut dapat terwujud dalam berbagai tindakan seperti ritual, pakaian adat, musik dan tarian budaya.
Ingatan Kehadiran Batak
Batak, dengan kegigihan, keluhuran dan ketinggian filosofi hidupnya bisa mendominasi Nusantara melalui lagu dan film, bisa mendominasi bahasa dan ucapan dengan logat khasnya, melalui lagu dan film, sebutlah lagu “ Pulut Roham” “ Mardua holong” , “Boru Panggoaran”, “ Asa Rap Mekkel”, dan beragam lagu lainnya, sering menemani setiap perjalanan orang Aceh, darat, laut dan udara. Melalui film Batak mendominasi ruang – ruang hidup dan ruang – ruang pertemuan manusia di Indonesia tentang bagaimana menjalani hidup tanpa masalah sama sekali ditengah banyaknya masalah hidup, menjalani hidup dengan bully, dengan canda, dengan tawa, dengan segala kekonyolan, namun disatukan dengan filosofi hidup kuatnya pertemanan, persahabatan, kesetiaan dalam ikatan sedarah dan saling menaikkan satu sama lain.
Dalam hidup, perkenalan dengan Batak dimulai ketika berusia 7 tahun. Perkenalan itu diawali oleh narasi kepahlawanan Sisingamagaraja dalam pelajaran sejarah di Sekolah Dasar, kemudian mewujud dalam bentuk fisik uang kertas bergambar Sisingamangaraja (1987). Poster sisingamangaraja juga terpampang sangat besar dikamar tidur karena masa itu adalah masa – masa paling heroik mencintai Nusa dan Bangsa dengan mengoleksi poster para pahlawan : Sisingamangaraja, I Gusti Ngurai Rai, Teuku Umar, Cut Nyak Din, Kristina Marta Tiahahu, Kapitan Pattimura dan banyak lainnya, jaman ketika ruang – ruang digital belum lahir.
Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama, perkenalan dan kehadiran Batak semakin intens dalam keseharian. Seorang Guru, sekaligus wali saya di SMP 2 Sabang adalah Ibu Murni Pangaribuan, beliau seorang perempuan Batak, beragama Kristen yang sangat baik sekali, mengajar mata pelajaran yang tidak main -main yaitu matematika. Ibu Murni mengajari kami dengan logat batak nya yang khas sekali ditambah suaranya yang sedikit serak, Masa itu tentu masa-masa yang sangat indah sekali , siswa laki-laki masih berseragam celana pendek, para guru tidak memakai jilbab, hanya berkerudung saja, tanpa ada keributan dan kericuhan identitas agama yang sangat memuakkan seperti hari ini. seorang Guru lainnya orang Batak dan beragama Kristen adalah Ibu Elizabeth, mengajar kesenian, suaranya sangat merdu ketika bernyanyi, juga sangat pandai sekali memetik gitar, saya sangat akrab dengan kedua guru perempuan ini, bahkan ketika libur sering bermain – main kerumah mereka.
Masa – masa itu juga, saya juga punya beberapa teman Batak yang nakal, gila, heboh dan tentu menyenangkan sekali, ada Rahmad Dalimunte (Islam), Roy Hotmian Pardede (Kristen). Perkenalan pertama sekali dengan teman bernama Roy H. Pardede ini terjadi ketika hari pertama masuk sekolah sebagai murid baru di SMP 2 Sabang, saya ingat betul ketika itu Roy Hotmian Pardede dengan berani dan sombongnya menyanyikan lagu “Kangen” Dewa 19, (lagu hits ketika itu yang dirilis 30 september 1992), dia memegang sebuah sapu ijuk ketika menanyikan lagu itu, Roy menggunakan sapu itu sebagai gitar sekaligus Stand Mic, dilain waktu, ketika mendung dan terdengar suara Guntur dilangit, Roy ini berteriak didalam ruangan kelas: “ dengarkan, malaikat mikail sedang main Drum”, candanya. Saya dan beberapa teman Batak Kristen ini sering bercanda tentang persoalan – persoalan agama dan itu biasa saja, justru pertemanan, persahabatan semakin akrab. Terakhir Roy Hotmian Pardede ini hijrah dari Sabang dan menetap di Kota Batam. Pertemanan kami biasa juga dengan saling berkunjung dihari – hari besar keagamaan seperti Hari Raya Puasa, Hari Raya Haji, mereka berkunjung ketempat saya , demikian juga ketika Hari Natal, kami yang berkunjung kerumah kawan – kawan kami yang Kristen.
Perkenalan Lebih Luas
Perjalanan – perjalanan berikutnya dalam hidup adalah perjalanan interaksi, komunikasi dan gerakan bersama antara Aceh dan Batak serta wilayah lainnya, kami bertemu di satu semangat bersama mewujudkan kehidupan warga negara yang damai, nyaman dan bermartabat dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan, pengalaman mengalami interaksi dengan teman – teman dimasa sekolah adalah modal penting bagi saya untuk interaksi yang lebih luas dari Kota Sabang kepada skala lebih besar dan luas yaitu seluruh Nusantara. Mulai tahun 2005, saya sudah terlibat intensif dan mendalam dalam gerakan advokasi bersama untuk kebebasan beragama dan berkepercayaan. Ditahap ini saya berkenalan, dan berkomunikasi intens dalam gerakan keberagaman bersama para pendeta, pemuka agama di nusantara, terutma dengan pendeta- pendeta Batak baik perempuan dan laki – laki bermarga Panjaitan, Berutu, Purba, Naibaho, Siregar, Hariandjak, Tarigan, dan para pendeta lainnya dari Aceh, Sumatera Utara, Jakarta, Jogja, NTT, Maluku, Papua, Surabaya, Solo, Sulawesi, Kalimantan dan teman – teman sipil pegiat demokrasi dan Hak Asasi yang akrab baik perempuan dan laki – laki bermarga Manalu, Sitohang, Simanjuntak, Sirait, Nasution, Damanik,
Salah satu anugerah dari Yang Maha Kuasa yang saya dapatkan adalah telah berinteraksi dan mengalami berabagai pertemuan diruang-ruang keberagaman dengan beragam komunitas agama dan keyakinan di nusantara, diantaranya Sunda Wiwitan, Parmalim, Ugamo Bangsa Batak (UBB), Sapto Darmo, Syiah, Ahmadiyah, Sikh, Bahai, dan beragam komunitas lainnya. Semuanya semakin meneguhkan dan menguatkan sebuah prinsip bahwa hidup yang paling sehat itu adalah hidup sebagai manusia, tidak hidup sebagai agama, sebagai identitas, sebagai budaya, manusia dengan kemanusiaannya itu universal dan identitas agama, budaya, kepercayaan adalah yang partikular dan melekat, ruang publik kita adalah sebagai manusia, dan ruang privat kita adalah sebagai agama, budaya, bahasa dan kepercayaan.
Perjalanan kesekian : Menyelami Filosofi Hidup Orang Batak
Sejarah Batak adalah Toba. Batak merupakan salah satu kelompok etnis tertua di kawasan tersebut, khususnya di sekitar Danau Toba dan Samosir. Mereka termasuk rumpun bangsa Austronesia. Batak terdiri dari enam sub-etnis utama: Toba, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun, dan Angkola.
Kehadiran Batak dan ingatan kehadiran Batak dalam hidup telah membawa kepada banyak perjalanan lainnya yang akan terus bisa dijalani selama manusia selalu membuka diri dan membuka pikirannya. Perjalanan dari tempat kita menetap menuju tempat yang kita tidak menetap adalah sebuah kenikmatan dan rileksasi tersendiri. Kita keluar dari segala kebiasaan rutin yang sudah bias akita jalani dalam keseharian untuk masuk kesebuah kebiasaan tanpa pola, karena kita memasuki wilayah lain yang berbeda alam, berbeda kebiasaan, berbeda logat, namun tetap disatukan sebagai sama – sama manusia, disinilah ruang pertemuan yang paling nyaman.
Perjalanan kali ini adalah perjalanan menuju Aek Natolu, sebuah daerah dingin, melewati Pematang Siantar dan Balige, Prapat, pinggiran danau Toba, yang merupakan danau vulkanik terbesar di dunia. Aek Natolu terletak di Kabupaten Toba yang memiliki 16 kecamatan, 231 desa, dan 13 kelurahan. Ibukota dari Kabupaten Toba adalah Balige, merupakan salah satu kota tersibuk disekitar Kawasan Danau Toba. Aek Natolu adalah sebuah Desa di Kecamatan Lumbun Julu yang berada di ketinggian 1.200 diatas permukaan laut. Mayoritas penduduk Kecamatan Lumban Julu berasal dari suku Batak Toba. Kecamatan Lumban Julu umumnya didiami oleh kelompok marga-marga Nairason yaitu : Sirait, Sitorus, Manurung dan Butar-butar. Dikecamatan ini terdapat 37 sarana ibadah : 35 bangunan gereja, 1 masjid dan 1 Langgar.
Karena waktu yang sangat singkat dan ini adalah kesempatan berharga menjelajahi budaya, sejarah dan fasilitas yang tersedia di wilayah ini, ada beberapa lokasi yang bisa dikunjungi seperti Bukit Gibeon dan Monumen Ompu Raja Sirait dan bandara Sibisa.
Bukit Gibeon, merupakan bukit wisata rohani di Sionggang Utara, Kecamatan Luban Julu, Bukit Gibeon berjarak 15, 3 Kilometer dari prapat, bukit ini meiliki luas 20 Hektar. Bukit Gibeon berfungsi sebagai Pusat Seminari Bukit Gibeon (sekolah pendidikan rohani dan persiapan para misionaris dan pendeta). Dari waktu ke waktu Bukit Gibeon mengalami perubahan yang signifikan pada fungsinya. Selain menjadi pusat pendidikan rohani, Bukit Gibeon juga berfungsi sebagai objek wisata bagi khalayak umum. Saat ini, Bukit Gibeon beroprasi sebagai tempat wisata keagamaan karena memiliki area spiritual yang dikenal sebagai Menara Doa Segala Bangsa yang dibangun di atas bukit dan gereja yang bernama Rumah Doa Segala Bangsa. Kawasan ini menjadi lokasi retret, peribadatan, dan pertemuan keagamaan serta menawarkan pemandangan lansung ke Danau Toba. Bukit Gibeon pada mulanya dibangun dan dikembangkan oleh lembaga rohani Kristen Seiring dengan berkembangnya wisata Danau Toba, kawasan ini terbuka pula bagi wisatawan umum. Penamaan “Gibeon” merujuk pada istilah dalam Alkitab yang dikaitkan dengan tempat pertemuan dan penguatan iman.
![]() |
| Pintu Masuk Bukit Gibeon |
Salah satu daya tarik utama Bukit Gibeon adalah adanya air terjun alami setinggi tujuh meter yang langsung jatuh ke dalam kolam. Air terjun ini tidak hanya memberikan pemandangan yang memukau tetapi juga suasana sejuk yang menyegarkan. Bagi pengunjung yang ingin bersantai atau berenang, Bukit Gibeon menyediakan kolam renang dengan berbagai ukuran. Kolam-kolam ini cocok untuk anak-anak, dewasa, dan bahkan atlet yang mencari kesegaran di tengah suasana alam yang indah
Monumen Ompu Raja Sirait, merupakan sebuah monumen yang memuat silsilah dan keturunan Raja Sirait. Ompu (atau Ompung) dalam bahasa Batak adalah gelar kehormatan untuk kakek/nenek, tetua, atau leluhur. Secara harafiah, ini berarti kakek/nenek, namun juga digunakan sebagai sapaan hormat untuk orang yang sudah memiliki cucu, pahlawan, atau tokoh terpandang. Ompu juga disematkan sebagai sebutan untuk leluhur.
Berikut adalah rincian arti "Ompu":
• Panggilan Kekeluargaan: Panggilan untuk kakek (Ompu Doli/Ompung Doli) atau nenek (Ompu Boru/Ompung Boru).
• Leluhur/Nenek Moyang: Merujuk pada nenek moyang atau generasi di atas kakek-nenek.
• Gelar Kehormatan: Panggilan untuk orang yang dihormati, tetua adat, atau tokoh yang memiliki kemampuan/kesalehan lebih.
• Konteks Luhur: Sering digunakan dalam sapaan untuk leluhur (representasi Tuhan) atau pahlawan (contoh: Ompu Sisingamangaraja XII).
Sapaan ini juga sering digunakan oleh cucu pertama (pahompu panggoaran) sebagai bentuk penghormatan adat kepada kakek/neneknya.
![]() |
| Monumen Ompu Raja Sirait |
![]() |
| Monumen Tugu Ompu Raja Sirait |
Batak, selain alamnya yang indah dan mempesona, manusianya juga diwakili oleh tiga hal penting dalam peradaban manusia yaitu pendidikan, kesetiakawanan dan semangat untuk kaya. Orang Batak memegang teguh filosofi hidupnya sebagai kunci sukses menjadi kaya. Filosofi dalam bahasa Batak ini diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya. Filosofi hidup orang Batak berakar pada kerja keras, adat yang kuat, dan kekeluargaan, berfokus pada mencapai Hamoraon (kekayaan/mapan), Hagabeon (keturunan/panjang umur), dan Hasangapon (Kehormatan/jabatan)
Jika kita melihat Batak begitu hebat hari ini, maka mereka dilahirkan, dibentuk dan dijaga oleh 7 falsafah hidup yaitu mardebata (bertuhan) identik dengan berdoa, marpinompar (berketurunan) yang berkesinambungan. Martutur (kekerabatan) ada pengendalian diri, maradat (punya adat istiadat) adanya perilaku dalam bersikap dan berperilaku. Marpangkiriman (berpengharapan) dapat membaca situasi, marpatik (punya aturan dan undang-undang) berwawasan luas. Kemudian maruhum (punya hukum) yang mengatur setiap orang untuk mewujudkan solidaritas yang tinggi terhadap sesama. (Aprilda Ariana Siantur)
1. Mardebata : Punya Tuhan
Orang Batak taat dan takwa kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan) yang juga disebut Ompu Mulajadi Nabolon sebelum adanya agama di tanah Batak. Debata Mulajadi Nabolon atau Ompu Mulajadi Nabolon diakui sebagai penguasa Banua Ginjang (surga) yang tidak mempunyai awal (Alfa) dan akhir (Omega). Debata Mulajadi Nabolon atau Ompu Mulajadi Nabolon yang menciptakan bumi dan segala isinya. Oleh karena itu, orang Batak selalu memperlihatkan hubungan yang dalam kepada Maha Pencipta (Ompu Mulajadi Nabolon). Sejak zaman dulu, nenek moyang orang Batak mempunyai tradisi martonggo (berdoa) dalam memulai maupun mengakhiri suatu acara adat dan acara-acara lainnya. Martonggo dipercayai dapat memberikan kenyamanan dan kebaikan bagi orang Batak dalam suatu acara atau pesta yang akan dilaksanakan. Acara tradisional Batak masih berlaku sampai kini. Misalnya, sebelum acara pernikahan ataupun orang meninggal, keluarga besar melakukan Tonggo Raja yang merupakan pertemuan para tokoh adat untuk membahas persiapan acara. Semua skenario dibicarakan tuntas berdasarkan demokrasi yang tinggi, sehingga pada saat pelaksanaan acara tidak ada lagi yang mempersoalkannya.
2. Marpinompar : Punya Keturunan
Orang Batak sangat peduli dengan keturunan, terutama anak laki-laki agar silsilah atau tarombo tidak terputus dan tetap berkesinambungan. Oleh sebab itu, orang Batak yang belum punya anak laki-laki masih belum dianggap memiliki hagabeon (lengkap dengan anak laki-laki dan perempuan), walaupun sudah memiliki hasangapon (terpandang) di masyarakat dan memiliki hamoraon (harta). Sebelum ajaran agama Kristen menyebar di Tapanuli, suami yang belum mempunyai keturunan laki-laki diizinkan menikah lagi. Namun, hal itu tidak lagi diterapkan di masa kini.
3. Martutur : Punya Kekerabatan
Kekerabatan orang Batak didasarkan pada Dalihan Natolu. Bila ada orang Batak yang tidak paham posisinya pada generasi keberapa dalam silsilah marga, maka dia dianggap tidak paham partuturan (kekerabatan). Berdasarkan garis keturunan/silsilah dapat diambil menjadi acuan dalam partuturan (kekerabatan). Seperti kata amang adalah ayah, amangtua adalah bapak yang usianya lebih tua daripada ayah kita, amanguda (adik ayah laki-laki). Amangboru (suami dari saudari ayah), namboru (bibi/kakak/adik perempuan ayah). Tulang (paman) adalah saudara laki-laki ibu, inanguda (tante) adalah saudari ibu, inangtua (istri abang ayah). Sebutan ini masih berlaku sampai saat ini.
Martutur (saling memberitahukan marga dan urutan generasi keberapa dalam susunan kekerabatan marga) sejak anak-anak telah diajarkan oleh orangtua. Oleh karena itu, kekerabatan masyarakat Batak dalam setiap pertemuan, baik dalam suka maupun duka merupakan konsepsi sistem dalam keluarga menjalankan Dalihan Natolu. Bagi setiap orang yang baru berkenalan, orang Batak selalu menggunakan perumpamaan sebagai berikut: Natiniptip sanggar, binaen huruhuan, Jolo sinungkun marga asa binoto partuturon. Perumpamaan ini mengandung makna agar setiap orang Batak yang bertemu mengetahui posisi masing-masing dalam adat. Apakah hula-hula, dongan sabutuha, atau boru.
4. Maradat : Punya Adat Istiadat
Orang Batak melaksanakan pernikahan silang dengan suku lainnya di Indonesia. Akan tetapi, keterbukaan tidaklah mengubah total kebiasaan masyarakat Batak. Suatu hal prinsipil yang dipegang orang Batak adalah filosofi Dalihan Natolu. Adat adalah sebagai habitat dalam kekerabatan yang mengatur dengan kokoh segenap rangkuman ke segala segi. Dalam hubungan dan kehidupan secara serentak menjadi rangkuman segala hukum, bentuk pergaulan atau hubungan sosial budaya, pembangunan rumah, penggarapan ladang, tata cara penguburan orang yang meninggal, mengurus perkawinan, mengatur gondang (pesta) yang dipelihara dan dihormati sampai sekarang. Misalnya seorang pria yang bermarga Lumban Toruan berkenalan dengan seorang wanita yang memiliki boru Naibaho. Si pria langsung menyebutkan gadis itu sebagai ito atau namboru-nya sesuai dengan adat Batak. Dalam filosofi Dalihan Natolu, masyarakat Batak adalah pelaksana demokrasi sejati yang tidak memandang suku, agama, ras, marga, jabatan, pangkat, dan harta atau status sosial. Semua orang mempunyai kedudukan yang sama dalam lingkup Dalihan Natolu.
5. Marpangkirimon : Punya Pengharapan.
Sebuah judul lagu 'Anakonhi do hamoraon di au', yang berarti keturunanku adalah harta yang tidak ada bandingannya. Tiga pengharapan atau cita-cita hidup orang Batak, yakni Hagabeon, Hasangapon, dan Hamoraon yang diusahakan diwujudkan selama seseorang hidup.
a. Hagabeon, artinya orang Batak sangat mendambakan punya keturunan laki-lakidan perempuan agar orang tersebut dapat menyandang gabe. Jika pasangan suami istri hanya mempunyai anak perempuan, maka keluarga tersebut belum layak disebut gabe karena tidak memiliki anak laki-laki.
Sarimatua : Orangtua yang meninggal dunia tidak dapat dikuburkan dengan adat penuh karena masih ada di antara putra-putrinya yang belum berkeluarga.
Saurmatua : Orangtua yang meninggal dunia yang telah berhasil membesarkan putra-putrinya hingga berumah tangga maka jasad orang itu akan dimakamkan denga pesta adat yang meriah. Bahkan di zaman dulu, pesta pemakaman orangtua yang saurmatua bisa berlangsung selama tujuh hari. Semua anak, cucu, dan sanak saudara manortor (menari) di rumah dan di halaman dengan iringan musik Batak. Jenazah diletakkan di hadapan keluarga dan tokoh adat. Sesuai dengan Dalihan Natolu dilakukan penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal itu. Jasad orang tersebut dikubur di dolok-dolok natimbo (di dalam tugu berbentuk rumah yang dibangun sebelum atau sesudah orang meninggal dunia).
Saurmatua maulibulung : artinya salah seorang orangtua telah berhasil menikahkan semua putra-putrinya dan cucu pertama dari anak laki-laki sudah menikah pula, baik itu cucu perempuan maupun laki-laki, serta cucunya dari anak perempuan juga telah menikah. Orang itu disebut marnini marnono (anaknya laki-laki dan perempuan telah punya cucu dan belum ada anaknya yang mendahului atau meninggal dunia). Inilah adat penguburan yang paling tinggi bagi orang Batak dengan pesta yang sangat meriah dengan sebutan Sipanangkok na male, sipatuat na bosur yang berarti setiap hari, pada waktunya makan, semua orang dapat makan bersama dan setelah kenyang dapat pulang kembali ke rumahnya.
b. Hasangapon (Terpandang dalam Masyarakat)
Hasangapon memiliki arti berusaha menjadi orang yang terpandang dan dihormati dalam masyarakat. Orang Batak sangat peduli dengan pendidikan anaknya. Walaupun tidak memiliki harta asal anaknya dapat bersekolah setinggi-tingginya, inilah prinsip bagi orang Batak.
c. Hamoraon (Kejayaan)
Setiap orang Batak bercita-cita ingin memiliki harta dan kekayaan. Oleh karena itu, orang Batak begitu gigih mencari uang. Laki-lai ataupun perempuan sama saja, tidak dibeda-bedakan. Identik hamoraon (kejayaan) dipakai untuk mencari hasangapon (terpandang) dengan menyekolahkan anak setinggi-tingginya.
6. Marpatik = Punya Aturan.
Patik adalah suatu aturan dan undang-undang dalam masyarakat Batak yang selalu dibarengi dengan nasihat atau petuah-petuah yang dapat membuat orang Batak terikat dan patuh dengan aturan tersebut. Adat Batak sering dikategorikan patik dohot uhum (aturan/undang-undang dan hukum). Patik adalah wujud dari suatu aturan yang baku bagi orang Batak, filsafat mengatakan patik naso boi oseon jala uhum naso boi ubaon yang berarti aturan atau undang-undang tidak boleh dikebiri dan dilanggar, hukum boleh diubah sesuai kesepakatan raja-raja adat. Patik identik dengan peraturan dan undang-undang yang bertujuan sebagai pagar menjaga hubungan kekerabatan dan kekeluargaan di tanah Batak. Sedangkan uhum adalah tatanan yang berlaku sebagai hukum di daerah tertentu yang bisa diterapkan kepada orang yang berbuat salah di desa tersebut. Hukum tersebut sudah ditetapkan berdasarkan ketetapan bersama oleh raja-raja adat dan raja-raja kampung setempat yang bertujuan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
7. Maruhum : Punya Hukum Hukum
Dalam adat Batak cenderung untuk meneliti sumber kebenaran dan keadilan serta melihat kesalahan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hati nurani dan imajinasi seperti pernyataan ini : Dao ndang sirang, jonok ndang mardomu, ndang di ida mata, alai di ida roha.(Jauh tidak pisah, dekat tidak bertemu, tidak dilihat mata, tapi dapat dilihat hati nurani) Pengertian tersebut di atas adalah suatu pengertian yang memerlukan pendalaman dalam menegakkan kebenaran dan keadilan kadang-kadang tidak bisa dilihat oleh mata kepala sendiri, akan tetapi dapat dimengerti oleh hati nurani.
Falsafah ketujuh ini menunjukkan adanya penegakan kebenaran dan keadilan di tanah Batak. Misalnya di satu desa telah disepakati bahwa segala tumbuhan yang ditanam oleh orang tua terdahulu ditetapkan berdasarkan kesepakatan adalah milik bersama dalam satu desa. Bila tanaman tersebut berbuah dan bisa dipanen, maka harus bersama-sama mengambilnya. Jika ada orang yang melanggar aturan, maka akan dibawa ke kantor desa/raja adat untuk diadili. Hukuman yang diberikan sangat berat, yakni menyediakan makan dan minum bagi warga satu desa agar orang lain tidak berbuat hal yang sama.
Ke tujuh Falsafah hidup ini dijalankan orang Batak dengan lima filosofi lainnya :
1. Unang Haloson
Orang batak rela merantau ke daerah lain demi memperoleh kehidupan lebih baik. Baik yang merantau maupun tidak, mereka memegang filosofi unang haloson. Artinya adalah jangan malas. Maksud filosofi hidup ini mengingatkan orang batak agar pantang menyerah, bekerja keras, tanggung jawab, dan tak ragu untuk bekerja apapun, asal tidak melakukan hal terlarang.
2. Unang Haotoon
Unang haotoon berarti jangan bodoh. Filosofi ini mengajarkan kepada putera-puteri Batak untuk menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Baik perempuan maupun laki-laki untuk mencapai tujuan kesuksesan mereka. Karena dengan sekolah tinggi didukung kerja keras akan mengubah kehidupan mereka. Orang tua batak akan berusaha keras agar anak-anaknya bisa sekolah tinggi. Sehingga anak-anak tersebut sukses dan kaya. Sebut saja Luhut Binsar Panjaitan (Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia 2019-2024), Hotma Sitompoel (pengacara), Dee Lestari Simangunsong (penulis buku), Butet Manurung (pelaku pendidikan alternatif), dan masih banyak lagi.
3. Mambuat Mas Sian Toru Ni Rere
Keinginan untuk sukses dan kaya, tak membuat orang-orang batak menghalalkan segala cara. Pasalnya, mereka memiliki filosofi hidup “mambuat mas sian toru ni rere”. Maknanya adalah tidak menjalani keuntungan dari jalan yang salah alias pantang serakah. Misalnya memfitnah, mencuri, atau korupsi.
4. Naso Matanggak Dihata, Naso Matahut di Bohi
Salah satu kunci sukses dalam hidup adalah jujur. Prinsip ini juga dimiliki oleh orang batak. Naso matanggak dihata, naso matahut di bohi yang artinya berani mengatakan kebenaran dan kesalahan. Dari hal tersebut, maka tidak heran, jika orang batak bicara lantang dalam mengatakan segala hal. Mereka berkata jujur dan memiliki prinsip kuat. Jika kamu menghadapi orang batak, jangan baper mendengar perkataannya. Karena di lubuk hati paling dalam, mereka baik hati dan loyal terhadap teman.
5. Na Teal So Hinallung Na Teleng So Hinarpean
Secara harfiah, na teal so hinallung na teleng so hinarpean diartikan berat sebelah tidak dipikul, yang mirik tidak dialasi. Maksudnya jangan congkak dan meremehkan orang lain. Meski orang batak kaya, ia harus menerapkan filosofi hidup tersebut. Karena kekayaan tak ada artinya jika tidak berguna bagi orang lain.
Setiap Bangsa pasti punya falsafah hidup, setiap kebudayaan pasti punya filosofi hidupnya sendiri, dan ketika bicara Batak sebagai sebuah falsafah hidup, maka kita dapat melihat bagaimana produk dari falsafah hidup yang mereka pegang ini dengan kiprah dan esksistensi orang – orang Batak dinegeri ini dari segala lini, mereka ada dimanapun, punya jabatan apapun dan punya kuasa apapun, politik, hukum dan kekayaan adalah buah dari filosofi hidup tersebut.


