Tiada Tuhan Dalam Demokrasi

Teuku Muhammad Jafar Sulaiman 

“vox populi vox dei”, “suara rakyat adalah suara Tuhan”, sudah harus ditinggalkan, karena suara rakyat tidak pernah mewakili Tuhan. Rakyat tidak lagi menjadi penentu hitam dan putihnya politik atau yang menentukan hasil dari kontestasi politik, karena semuanya ditentukan oleh pemodal, pemilik uang. Suara rakyat bukan suara Tuhan, karena suara Tuhan tidak diperjual belikan, suara Tuhan tidak akan memilih politisi brengsek, suara Tuhan juga tidak akan memilih pemimpin yang brengsek dan menyebalkan.
Sumber : Google 
Sebagai manusia, kita terus tersandera pada demokrasi yang tidak mungkin ideal, karena demokrasi berhubungan dengan manusia, bukan dengan malaikat. Appaun yang berhubungan dengan manusia, maka tidak akan pernah ideal, kecuali manusia kemudian menjadi malaikat. Demokrasi adalah juga perbudakan terus menerus bagi dunia ke tiga yang harus hidup dalam irama dan kebiasaan berfikir para kolonialis. Demokrasi awalnya adalah sesuatu yang asing bagi kita, tetapi kolonialisme memaksa yang asing itu menjadi familiar melalui sentimen negara bangsa, yang sejatinya hanyalah komunitas-komunitas imajiner, yang nyata adalah sebuah penjajahan baru yang dilakukan oleh orang-orang kita sendiri dengan memakai demokrasi.

Konsep- konsep pokok demokrasi, telah digagas oleh pemikir/filosof  Yunani kuno, salah satunya adalah Aristoteles. Bagi Aristoteles, demokrasi adalah supremasi sekumpulan masyarakat luas, termasuk diantaranya orang- orang miskin. Dalam pemikiran Aristo dan itu kemudian menjadi ciri pokok demokrasi klasik yaitu equality (persamaan), kebebasan (freedom), dan penguasaan mayoritas (majority ruled), ciri ketiga ini kemudian menjadi sangat problematis dan dilematis, dengan narasi bahwa minoritas harus tunduk kepada mayoritas, karena demokrasi memberi ruang untuk itu. Penguasaan mayoritas terjadi karena keputusan berdasarkan jumlah, bukan berdasarkan distribusi keadilan.

Pemikiran Plato dan Aristoteles tersebut selama 2000 tahun setelah mereka tidak banyak berubah, sampai kemudian muncul Thomas Hobbes seorang filosof Inggris (abad 17-18) dan Jean Jacques Rousseau seorang penulis dan filosof Perancis, John Locke dan Charles Montesqiueu.

Hobbes dengan sederhana melukiskan demokrasi sebagai Leviathan. Menurut Hobbes, masyarakat harus dipimpin dengan sangat tegas untuk menghilangkan pemaksaan dan pemerkosaan hak atas manusia lemah yang lain. Karena itu, konsentrasi kekuasaan harus difokuskan pada satu tempat (locus), yang disebut hobbes sebagai kedaulatan (sovereign). Kekuasaaan sangat besar itu bisa saja jatuh dan beralih ketangan satu orang, bisa juga ke lembaga- lembaga yang dibuat oleh sejumlah warga dan bahkan dalam  badan-badan bentukan seluruh warga, disini kontrol popular (demos/rakyat) juga tidak terjadi, karena semua proses dan mekanisme pembentukan badan - badan tersebut semuanya melalui kekuasaan negara, sehingga people sovereign itu tidak pernah ada dalam mekanisme penyelenggaraan kekuasaan.

John Locke dan Charles Montesquieu dari Perancis  juga mengikuti klasifikasi Hobbes ini, terutama soal trias politika yang hampir meratas ada disemua sistem negara saat ini. Yang berbeda secara sangat mendasar dengan Hobbes hanya Jean Jacques Rosseaue.

Menurut Rosseau, demokrasi tidak ada yang utuh dan murni secara asali dan tidak akan pernah peran demokrasi itu terjadi seperti yang diidealkan, karena hal itu akan bertentangan dengan hukum natural, karena sebagian, dimana sejumlah besar memerintah dan sejumlah kecil diperintah. Karena itu berilah kebebasan kepada setiap warga negara untuk bebas menentukan dirinya secara alamiah, karena pada dasarnya semua manusia itu diciptakan baik adanya. Seluruh kehendak baik yang asali dari masyarakat warga tersebut akan terumuskan dalam apa yang disebut dengan General Will. Ide general will ini tidak akan pernah salah, karena berasal  dari kepentingan seluruh masyarakat warga. Tidak mungkinlah kepentingan mereka sendiri mereka khianati. Inilah sebenarnya konsep demokrasi yang paling kuat, tetapi juga sekaligus paling sulit dan hampir tidak mungkin dipraktekkan, model seperti ini mungkin hanya bisa di praktekkan dimasyarakat yang punya patron spiritual yang loyal dan kuat.

Demokrasi ideal itu sangat sulit dicapai, dia bermain misanya diantara riak-riak oligarkhi, dimana praktek ini sebenarnya adalah praktek Leviathan. Kekuasaan yang terpusat pada satu orang, maka kelembagaan penyelenggara kekuasan tidak mungkin tidak akan berperan untuk membantu oligarkhi ini, bahkan dalam keseharian yang paling menjemukan, semua kekuasaan, ketika dia berkuasa, pasti berlomba-lomba mewujudkan oligarkhi, sehingga demokrasi dipaksa untuk menerjemahkan dan membenarkan politik  dinasti dengan dalil semua punya hak berpolitik.

Tidak ada yang bisa diharap dari parody demokrasi seperti ini. Sebenarnya kalau demokrasi dihampiri dengan "meritokrasi,"maka oligarkhi akan lansung nampak timpang dan tidak sehat, karena proses pengarus utamaan oligarkhi akan tunduk pada kepantasan dan kepatutan, yang didapat dari proses meritokrasi, yaitu proses yang menempatkan orang  sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya, bukan berdasarkan kedekatan atau berdasarkan keputusan-keputusan politik tanpa melalui proses fit and propertest sama sekali.

Seorang anak penguasa misalnya, dia bisa saja tidak pantas dan tidak patut sama sekali untuk menduduki posisi tertentu, tetapi semua proses ini di nihilkan dengan demokrasi sebagai Leviathan, demokrasi yang tunduk pada tangan seseorang, dan tidak sama sekali berdasarkan general will atau kehendak umum tadi.

Hari-hari ini, kita memang menyaksikan bahwa melalui demokrasi, manusia bisa menjadikan kekuasaannya sebagai Tuhan, karena dia punya segalanya dan bisa melakukan segalanya berdasarkan kepentingan tertentu yang pasti bukan kepentingan rakyat. Ketika ditangan manusia kekuasaan menjadi Tuhan, padahal manusia pemegang kekuasaan itu sama sekali tidak punya otoritas spiritual, apalagi otoritas hidup mati manusia, maka kembalikan kekuasaan itu kepada Tuhan sebenarnya, yang punya semua otoritas spiritual, otoritas hidup dan mati manusia, Tuhan sebenarnya, Tuhan zahir dan Batin.



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Baca Juga Tulisan Lainnya :