Pemimpin yang “Melampaui”
Oleh : Teuku
Muhammad Jafar Sulaiman, MA
Dalam perjalanan sejarahnya, sejatinya, Aceh adalah nanggroe yang
menyatukan segala keterpisahan dan keterpilahan. Dimana kelanjutan
perjalanannya adalah ikhtiar agung kosmopolitanisme, yaitu membuka diri bagi
kemajuan dan menerima ide-ide donya (dunia) bagi kekokohan
fondasi bangunan peradabannya.
Dari penyatuan semua inilah, maka dalam makna terdalamnya, sama
seperti nanggroe-nanggroe dunia lainnya, Aceh menjadi nanggroe dengan
ibukota berbilang abad yang penuh peradaban.
Di narasi kekinian, sebagai nanggroe yang telah
mengalami berbagai peristiwa, suka dan duka, dengan segala esensi keberadaannya
bagi manusia di dalamnya, maka kepemimpinan Aceh hendaknya bukanlah dipegang
oleh sosok yang dinilai berdasarkan ketaatan personal simbolik tetapi sosok
yang punya kesalehan dan ketaatan sosial yang melampaui sekat-sekat agama,
suku, ras, bahasa dan lainnya.
Kepemimpinan ini hendaklah kepemimpinan yang menyatukan, bukan
memisahkan. Kepemimpinan “yang melampaui”, bukan “membatasi”, karena gerbang
gemilang peradaban tak akan pernah hadir karena kepemimpinan yang membatasi,
tetapi hanya didapat melalui kepemimpinan yang punya keterlampauan imajinasi
dan keberpihakan pada spirit kebebasan.
Apa itu Pemimpin “Yang Melampaui”?.
Pemimpin “Yang Melampaui” adalah pemimpin yang sudah selesai
dengan dirinya sendiri dan memandang warga nanggroenya melompati
identitas yang melekat seperti agama, keyakinan, suku, ras dan status sosial.
Selesai dengan dirinya sendiri adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin.
Karena nantinya dia tidak lagi mengurus dirinya sendiri, tetapi mengurus orang
banyak.
![]() |
| Sumber : Google |
Selesai dengan dirinya sendiri dapat dibaca bahwa pemimpin ini
adalah pemimpin yang tidak lagi memerlukan pujian, tidak ada lagi kebencian,
tidak lagi memperkaya diri, keluarga dan kroni-kroninya, tidak bekerja supaya
dianggap sebagai pahlawan, apakah pahlawan syariat dan lain sebagainya, tidak
berjarak dengan rakyatnya tetapi selalu dekat dan bersahabat.
Ketika ini semua sudah selesai, maka kepemimpinan akan
beroperasi semata-mata hanya sebagai pengabdian, mengabdi dan melayani rakyat,
bukan sang pemaksa kehendak dengan arogansi tanpa batas.
Pemimpin “Yang Melampaui” ini menjadi begitu penting, karena,
sekian lama perjalanan Aceh paskatsunami dan konflik, kita punya permasalahan
dalam hubungan antarmanusia yang disekat-sekat oleh kekuasaan berdasarkan
agama, status sosial dan punya permasalahan dalam dua hal penting lainnya
yaitu, kekuasaan yang mempertentangkan antara spirit keagamaan dengan spirit
kebebasan dan persoalan antara irrasionalitas logika kekuasaan dan rasionalitas
warga, dimana kekuasaan dipaksa bekerja berdasarkan hegemoni teologi. Akibatnya
kebijakan yang lahir adalah hitam putih penghukum moral, bukan pengayom dan
penjaga kemanusiaan yang berwarna. Sehingga, dapat segera ditebak bahwa praktik
ini hanya menciptakan penjara-penjara baru. Di sini, kekuasaan melahirkan
kepemimpinan yang menjadi penghalang tertinggi bagi manusia untuk
merealisasikan dirinya.
Pemimpin “Yang Melampaui” dan masa depan kita.
Aceh butuh pemimpin “yang melampaui”, karena kita sudah belajar
sekian banyak dan sekian lama dari kepemimpinan yang membatasi. Pemimpin yang
melampaui, dibaca tidak sebagai sebuah identitas kekuasaan tetapi sebagai
kebaikan yang memanusiakan manusia, memandang manusia sebagai sesama ciptaan
tidak sebagai objek bagi pemaksaan kehendak kekuasaaan.
Pemimpin ini adalah pemimpin yang tidak melihat manusia
berdasarkan agama, suku, ras, etnis dan kelas sosial, tetapi memandang manusia
melompati sekat-sekat itu, dan melihat manusia, selaku sesama makhluk ciptaan
Allah SWT yang punya hak sama tanpa boleh dihalangi dan dibatasi.
Pemimpin yang melampaui adalah pemimpin yang santun dengan
rakyat, tidak menjengkal rakyat berdasarkan berapa banyak pelanggaran etika dan
moral yang dilakukan dan mempermalukan warganya dengan menggelar
sebanyak-banyaknya panggung penghukuman.
Pemimpin “Yang Melampaui” tidak akan pernah berkata pada “untuk
mengusir rakyatnya keluar dari Aceh, bagi siapapun yang punya pemikiran yang
berbeda dengan logika kekuasaan.
Kita dapat belajar banyak dari kepemimpinan yang mendekati kita
dan menyapa kita selama ini. Pemimpin memasuki ruang rasionalitas kita dengan
penentangan atau memberi ruang realisasi segala ekspresi ?.
Ketika kita sadar sesadar-sadarnya bahwa kepemimpinan yang ada
selama ini belum bisa menjembatani spirit keagamaan dengan spirit kebebasan,
yang kedua-duanya punya tempat dalam setiap ruang hati dan pikiran manusia,
maka kita juga harus segera betindak cepat dengan menghadirkan kepemimpinan
“Yang Melampaui”.
Berkaca pada kepemimpinan selama ini, dimana spirit keagamaan
dan spirit kekuasaan selalu dihadirkan ke ruang publik sebagai arena
pertentangan. Sehingga dalam model ini, kehebatan sejati kepemimpinan hanyalah
kebijakan “membatasi” tanpa berani membuka ruang pertemuan.
Ini semua terjadi karena titik anjak kepemimpinan adalah
“kecurigaan”, sehingga yang hadir adalah “jarak dan batas”. Ketika tahun 2017
ini, Aceh punya pemimpin “Yang Melampaui”, maka sejak saat itulah nanggroe
peunulang endatu ini segera menjadi rumah gemilang bagi kita semua.
